Informasi Seputar Kesehatan Masyarakat
Kita Hebat Berani Beraksi
ASI Bisa Membunuh Sel Kanker
Makanan bayi Air susu ibu (ASI) mengandung banyak zat yang sangat berguna untuk tubuh. Kini peneliti menemukan salah satu zat yang terkandung di dalam ASI bisa membunuh sel-sel kanker.
Untuk pertama kalinya zat dalam ASI yang dikenal dengan HAMLET telah berhasil diujikan pada manusia. Pasien kanker kandung kemih yang dirawat dengan menggunakan HAMLET telah berhasil mengusir sel-sel kanker mati melalui urin.
Untuk pertama kalinya zat dalam ASI yang dikenal dengan HAMLET telah berhasil diujikan pada manusia. Pasien kanker kandung kemih yang dirawat dengan menggunakan HAMLET telah berhasil mengusir sel-sel kanker mati melalui urin.
Dengan penemuan ini diharapkan dapat meningkatkan harapan agar bisa menjadi obat yang potensial.
Pada percobaan di laboratorium, zat HAMLET di ASI diketahui dapat membunuh 40 jenis sel kanker dengan keuntungan tidak akan merusak sel-sel yang sehat.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Gothenburg dan Lund University di Swedia ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah PLoS One.
Penemuan ini menjadi salah satu terobosan baru yang melibatkan bahan-bahan di dalam ASI untuk manfaat kesehatan.
Sebelumnya, menyusui telah diketahui dapat melindungi tumor di masa kanak-kanak. Minggu lalu peneliti AS juga mengungkapkan bahwa zat asam laurat yang ada di ASI bisa memerangi jerawat dan menghindari efek samping berupa kulit kemerahan.
HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumour cells) ditemukan secara tidak sengaja ketika para peneliti sedang menyelidiki sifat anti bakteri yang ada di ASI.
Zat ini terdiri dari protein dan asam lemak yang ditemukan secara alami dalam ASI. Percobaan sebelumnya tidak menguji HAMLET pada pasien dan hanya sebatas laboratorium saja.
“Secara laboratorium zat ini bisa membunuh 40 jenis kanker, dan sekarang para peneliti akan mempelajari pengaruhnya pada kanker kulit, tumor di selaput lendir dan tumor otak,” ujar Profesor Roger Karlsson dari University of Gothenburg’s department of chemistry, seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (21/4/2010).
Meskipun zat ini sudah ditemukan beberapa tahun yang lalu, tapi baru sekarang waktu yang memungkinkan untuk mengujinya pada manusia. Tim peneliti Swedia mengekstraksinya dari ASI lalu mengujinya pada pasien kanker dengan cara disuntikkan langsung ke bagian tumor.
Karya dari Prof Karlson adalah mengkombinasikan bahan kimia dari ASI dengan asam lemak agar menciptakan suatu kondisi yang dapat menirukan keasaman yang ditemukan pada perut bayi sehingga dapat menghasilkan efek membunuh sel kanker.
Peneliti percaya jika zat aktif ini telah terpapar asam lambung dapat menimbulkan efek perlindungan yang sama seperti melawan tumor di masa kanak-kanak. Namun mereka menekankan bahwa pengembangan pengobatan antikanker dengan HAMLET tergantung pada pengubahan zat ini dalam bentuk obat.
.
Sumber: DetikHealth
.
Memanipulasi ASI Menjadi Sehat dan Menyembuhkan
Sudah banyak penelitian membuktikan bahwa ASI mengandung banyak zat yang sangat baik untuk kesehatan. Tuhan telah merancang ASI tidak hanya sebagai makanan saja tapi juga obat alami bayi. Beberapa komponen “penyembuh” seperti HAMLET dan asam laurat banyak ditemukan pada ASI. Namun kualitas dan kuantitas daripada komponen-komponen penyembuh tersebut sangat dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi Sang Ibu.
Ketika Ibu sering mengonsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat seperti misalnya kopi+susu, junk food, pemanis buatan, soft drink dan ditambah lagi dengan merokok, zat-zat tidak sehat yang terkandung pada makanan itupun ikut menjadi bagian dari ASI. Jika ASI yang mengandung banyak zat-zat racun ini dikonsumsi oleh anak, ini akan membahayakan pertumbuhan dan kesehatannya.
Lain halnya jika Ibu benar-benar menjaga pola makan selama masa menyusui, ia akan menghasilkan ASI yang sehat dan berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. ASI seperti ini juga merupakan suatu imunisasi alami bagi anak. Asam laurat yang bertindak sebagai antivirus dan antibakteri alami sangat banyak ditemukan di minyak kelapa murni. Dengan mengonsumsi minyak kelapa secara rutin, Ibu telah mensuplai persediaan asam laurat yang berlimpah ke dalam ASI-nya. Minyak kelapa juga berlimpah akan asam lemak dan enzim yang membantu pembentukan HAMLET si pembunuh kanker.
Rutin mengonsumsi minyak kelapa selama masa kehamilan akan melindungi janin dari resiko kanker dan infeksi bakteri maupun virus. Nutrisi berlimpah yang terkandung dalam minyak kelapa juga akan membantu pertumbuhan janin dalam rahim. Asam laurat yang terkandung dalam minyak kelapa juga akan disimpan dan dijadikan bahan dasar ASI ketika Sang Bayi telah dilahirkan. Begitu juga ketika rutin mengonsumsi minyak kelapa selama menyusui, Ibu telah meningkatkan kualitas ASI yang kaya akan nutrisi dan zat pembunuh kanker, antivirus dan antibakteri.
Iklan
Tinggalkan komentar
Dipublikasi di OPINI
Heboh! Penemu HIV Berkata HIV Bisa Hilang dengan Nutrisi (1)
Dari sejak awal, para AIDS Denialist selalu menekankan bahwa AIDS sebenarnya bisa disembuhkan dengan nutrisi. Namun, para Pro AIDS dari perusahaan farmasi yang tidak ingin kehilangan penghasilan atas penjualan obat kimia menolak keras pandangan ini. Yang dikhawatiran oleh para penjual ARV (obat kimia khusus HIV) pun terjadi juga. Luc Montagnier, penemu HIV itu sendiri malah berkata bahwa HIV sebenarnya bisa hilang dengan perbaikan nutrisi (pengobatan alami).
Untuk lebih jelasnya, mari saya ajak Anda untuk menyimak wawancara menggemparkan antara Brent Leung dan Luc Montagnier. Anda bisa melihat wawancara ini di Youtube di link:
Atau Anda juga bisa mengupasnya di artikel Connie Howard yang dimuat di Vue Weekly, 10 Desember 2009, berjudul “Well, Well, Well: Nutrition”.
.
Pesan Menggemparkan dari Luc Montagnier
Berikut wawancara menggemparkan tersebut, diambil dari situs Youtube tanpa sensor:
Brent Leung: You talked about oxidative stress earlier; is treating oxidative stress one of the best ways to deal with the African AIDS Epidemic?
Brent Leung: Anda berkata sebelumnya mengenai tekanan oksidatif, yaitu dengan menangani tekanan oksidatif adalah salah satu dari cara terbaik untuk mengatasi epidemi AIDS di Afrika?
Luc Montagnier: I think this is one way to approach, to decrease the rate of transmission because I believe HIV, we can be exposed to HIV many times without being chronically infected, our immune system will get rid of the virus within a few weeks, if you have a good immune system; and this also the problem of African people. Their nutrition is not very equilibrated, they are in oxidative stress, even if they are not infected with HIV; so their immune system doesn’t work well already. So it’s prone, it can you know, allow HIV to get in and persist.
Luc Montagnier: Saya pikir ini adalah salah satu cara yang perlu diadakan pendekatan, untuk mengurangi tingkat penyebaran karena saya percaya bahwa HIV – kita bisa terpapar HIV berulangkali tanpa terinfeksi secara kronis – sistem imun kita akan mengenyahkan virus tersebut dalam beberapa minggu, jika Anda memiliki sistem imun yang bagus. Dan ini juga jadi masalah bagi orang-orang Afrika. Nutrisi mereka sangat tidak seimbang, mereka mengalami tekanan oksidatif, walaupun mereka tidak terinfeksi oleh HIV; jadi sistem imun mereka tidak berfungsi dengan baik sejak dari awal (red: karena nutrisi tidak baik). Jadi ini mempermudah, Anda tahu, mengijinkan HIV untuk masuk dan tetap ada.
So there are many ways which are not the vaccine, the magic name, the vaccine, many ways to decrease the transmission just by simple measures of nutrition, giving antioxidants – proper antioxidants – hygiene measures, fighting the other infections.
Sebenarnya ada banyak cara dimana bukanlah vaksin, nama ajaibnya, vaksin, banyak cara untuk mengurangi transmisi hanya dengan penetapan sederhana seperti nutrisi, memberikan antioksidan tertentu, menjaga kebersihan, dan melawan infeksi-infeksi lainnya.
So they are not spectacular, but they could, you know, decrease very well the epidemic, to the level they are in occidental countries, western countries.
Mereka (red: cara-cara alami) tidaklah spektakular, tapi mereka mampu, Anda tahu, mengurangi epidemi dengan baik, sampai pada level epidemi di negara-negara barat.
Brent Leung: If you have a good immune system, then your body can naturally get rid of HIV?
Brent Leung: Jika Anda punya sistem imun yang baik, maka tubuh Anda dapat mengenyahkan HIV secara alami?
Luc Montagnier: Yes.
Luc Montagnier: Benar.
Brent Leung: Oh interesting. Do you think we should have more of a push for antioxidants, and things of that nature in Africa then antiretrovirals (AIDS Drugs)?
Brent Leung: Oh menarik. Apa Anda berpendapat bahwa kita sebaiknya lebih lagi menekankan akan pemanfaatan antioksidan dan pengobatan alami lainnya di Afrika daripada antiretroviral (obat AIDS)?
Luc Montagnier: We should push for more, you know, a combinations of measures; antioxidants, nutrition advice, nutritions, fighting other infections –malaria, tuberculosis, parasitosis, worms – education of course, genital hygiene for women, and men also. Very simple measures which not, not very expensive, but could do a lot. And this is my, actually my worry about the many spectacular action for the global funds to buy drugs and so on, and Bill Gates, and so on, for the vaccine.
Luc Montagnier: Kita harus lebih lagi menekankannya, Anda tahu, suatu kombinasi dari penetapan antiksidan, nutrisi, melawan infeksi lain – malaria, tuberculosis, parasitosis, cacingan – , tentu juga pendidikan, kebersihan genital (red: kelamin) bagi wanita dan pria. Penetapan-penetapan yang sangat sederhana, dimana sangat tidak mahal, namun sanggup berdampak banyak. Dan ini adalah, sebenarnya kekhawatiran saya mengenai aksi spektakular akan penggalian dana global untuk membeli obat-obatan dan lainnya, dan (red:yayasan) Bill Gates, serta hal-hal lainnya, untuk membeli vaksin.
But, you know those kind of measures are not very well funded, they’re not funded at all, or they are. You know, it really depends on local government to take choice of this, but local government they take advice of the scientific advisors from the intelligent institutions, and they don’t get this kind of advice very often.
Tapi Anda tahu bahwa penetapan-penetapan seperti itu (red: alami) tidak begitu didanai, mereka tidak didanai sama sekali, atau bisa juga didanai. Anda tahulah, ini tergantung dari pemerintah lokal untuk mengambil pilihan akan hal ini, tapi mereka – pemerintah lokal – mengambil saran dari para penasihat ilmiah di institusi-institusi intelijen, dan mereka tidak sering mendengarkan saran-saran seperti ini.
Brent Leung: Well, there’s no money in nutrition, right? There’s no profit.
Brent Leung: Ya karena dalam nutrisi tidak menghasilkan uang khan? Tidak ada keuntungan.
Luc Montagnier: There’s no profit, yes. Water is important. Water is key.
Luc Montagnier:Tidak ada keuntungan, ya. Air sangatlah penting. Airlah kuncinya.
Brent Leung: Now one thing you said, you were talking about the fact that if you have a built immune system, it is possible to get rid of HIV naturally. If you take a poor African who’s been infected and you build up their immune system, is it possible for them to also naturally get rid of it?
Brent Leung: Sekarang Anda katakan suatu hal, Anda berkata mengenai fakta bahwa jika Anda memiliki sistem imun yang kuat, adalah mungkin untuk mengenyahkan HIV secara alami (red: dengan sendirinya). Jika Anda mengambil seorang Afrika miskin yang telah terinfeksi (red:HIV positif) dan Anda menguatkan sistem imun-nya, apakah memungkinkan baginya untuk juga mengenyahkan HIV secara alami?
Luc Montagnier: I would think so.
Luc Montagnier: Saya pikir demikian.
Brent Leung: That’s an important, that’s an important point.
Brent Leung: Itu hal penting, suatu poin yang penting.
Luc Montagnier: That’s important knowledge which is completely neglected. People always think of drugs, and vaccine. So this is a message which may be different from what you heard before, no?
Luc Montagnier: Itu adalah pengetahuan penting yang telah diabaikan sepenuhnya. Orang-orang selalu berpikir akan obat-obatan dan vaksin. Jadi ini adalah suatu pesan yang bisa jadi berbeda dari apa yang pernah Anda dengar sebelumnya, bukankah demikian?
Brent Leung: The closing?
Brent Leung: Penutupannya?
Luc Montagnier: No, no, yes, my message, it’s different from what you heard from (Antony) Fauci or …
Luc Montagnier: Baiklah, pesan saya ini, ia berbeda dari apa yang Anda dengar dari (Antony) Fauci atau …
Brent Leung: Yes. It’s a little different.
Brent Leung: Ya, sedikit berbeda. (ungkapan bercanda karena Antony Fauci berpendapat bahwa HIV harus ditangani dengan obat-obatan antiretroviral dan tidak boleh dihentikan. Ia juga berpendapat bahwa HIV tidak bisa dihilangkan secara alami)
Luc Montagnier: Little different.
Luc Montagnier: Sedikit berbeda.
…. bersambung
Dipublikasi di OPINI
Jamu Tetes Taklukan HIV/AIDS Pesan Baru
Masih ingat dengan artikel sebelumnya “Heboh! Penemu HIV Berkata HIV Bisa Hilang dengan Nutrisi”? Penemu HIV, Luc Montagnier telah berkata bahwa nutrisi dan pengobatan alami bisa dipakai untuk menaklukkan dan menghilangkan HIV. Sekarang dalam artikel ini saya akan memberikan contoh bahwa jamu modern juga bisa dipakai untuk menaklukkan HIV/AIDS, bahkan untuk kasus yang sudah resisten.
.
.
CONTOH KASUS
Pecandu Narkoba dan Positif HIV
Sebelumnya Agus adalah pecandu narkoba dan positif HIV. Warga Gang Potlot Jakarta ini, awalnya hanya memiliki CD4 senilai 5, jauh dari normal yang mencapai 500 – 1500. Lelaki 35 tahun ini menterapi dirinya dengan SOMAN 1 sejak Desember 2007. Dosisnya sehari tiga kali minum, masing-masing 5 tetes. Kini hasil pemeriksaan oleh dr.Aisyah ( Dokter RS.Harum Kalimalang ) nilai CD4nya telah meningkat 300. “ Gue juga lebih fit, nggak cepat capek, tidur bisa nyenyak. Terus gue jadi tambah nafsu makan,” terangnya bersemangat.
.
Ahok Sembuh dari AIDS
Entah siapa yang mesti disalahkan, Ahok kecil yang semestinya asyik bermain dengan teman sebayanya malah divonis positif mengidap virus HIV yang dibawa sejak lahir. Standar Ukuran Kekebalan Tubuh Manusia atau disebut dengan CD4 memiliki tingkat 500-1500, Ahok hanya memiliki tingkat CD4 sebanyak 45. Hampir seluruh tubuh Ahok luka akibat terkena infeksi dan sariawan akut.” Ahok mencapai stadium empat, sampai ketiaknya juga ditumbuhi luka”. Ahok tidak sanggup lagi dijejali obat medis, karena obat medis sudah jarang diminum sehingga kondisi Ahok semakin parah. Ahok minum SOMAN 1, sehari tiga kali sebanyak lima tetes secara rutin. Yang terjadi, “Prosesnya hanya dua hari luka di badan Ahok sudah langsung mengering“. Ahok bisa makan lagi dan jamur dimulutnya rontok semua. Setahun berlalu, tingkat kekebalan tubuh Ahok meningkat , terbukti dari nilai CD4 nya yang kini menjadi 559. Angka tersebut bisa dibilang normal.
.
JAMU TETES MODERN ASLI PRODUK INDONESIA
Jamu Tetes SOMAN 1 terbuat dari 98% extrak Buah Tropis Indonesia dengan Sari Umbi Manggata dan 2% Deep sea Squalene yang diproses dengan bio teknologi fermentasi dingin tanpa tambahan bahan kimia dan pengawet, proses ini memakan waktu selama 6 hingga 9 bulan.
Manggata adalah tumbuhan asli asal Gorontalo yaitu sejenis rumput yang menjalar di tanah yang biasa dikenal dengan nama Rumput Teki di Pulau Jawa. Manggata sulit untuk dimatikan karena ada enzim atau hormon tertentu yang membuat tanaman ini bisa mengatur hidupnya secara luar biasa dan mempunyai daya regenerasi sel yang luar biasa.
Manggata yang bisa digunakan adalah umbinya yang mengandung Alkanoid, Flavonoid dan Glikosida Jantung. SOMAN 1 kaya akan kandungan :
– Vitamin A, B, C, D, E dan K
– 18 Macam Asam Amino
– 8 Macam Asam Lemak
– Mineral
– Enzym
– Lactobacillus
– 18 Macam Asam Amino
– 8 Macam Asam Lemak
– Mineral
– Enzym
– Lactobacillus
SOMAN 1 bekerja sangat cepat dalam tubuh untuk mengatasi berbagai penyakit termasuk untuk kasus HIV/AIDS. Jadi selain contoh kasus HIV di atas, SOMAN 1 juga bisa dipakai untuk menaklukkan penyakit diabetes, lupus, TBC, hepatitis, asma, stroke, kanker, sakit jantung, sakit ginjal, infeksi mikroba, segala jenis luka, sinusitis, dan lain-lain.
Saya sangat suka dengan slogan produk herbal ini, yaitu: “Saat dunia medis angkat tangan, SOMAN 1 turun tangan.”
Bravo! Satu lagi produk anak bangsa yang membanggakan kita semua.
Healindonesia, Dt Awan (Andreas Hermawan)
Note:
– Penulis adalah seorang AIDS Denialist dimana kelompok ini berpendapat bahwa HIV itu tidak ada. Penulis tetap mencantumkan istilah HIV dalam artikel ini bukan karena percaya bahwa HIV itu ada, tapi karena istilah ini sering dipakai oleh masyarakat awam. Penjelasan detail mengenai mengapa para kaum AIDS Denialist tidak percaya bahwa HIV itu tidak ada bisa Anda baca di link http://aidsalternative.co.nr
– Jika Anda tertarik untuk memesan SOMAN 1, silahkan hubungi Dt Awan di 08174745269 / 0361 7969834.
– Jika Anda tertarik untuk memesan SOMAN 1, silahkan hubungi Dt Awan di 08174745269 / 0361 7969834.
Dipublikasi di Info Dasar
Dengan kaitkata AIDS, cara mengobati hiv, HIV, hiv/aids, jamu tradisional, merawat hiv, merawat odha, nutrisi, penyembuhan hiv, perawatan ODHA
Desain Media Promosi Kesehatan (Berpikir Kreatif)
Penulis: Dian Cahyadi
Melalui beberapa diskusi ringan dengan kolega membahas perihal peran promosi kesehatan sebagai media menjembatani komunikasi tentang berbagai permasalahan kesehatan di masyarakat. paya mengkomunikasikan berbagai program pemerintah dalam lingkup departemen kesehatan terasa belum menyentuh ke target audiens level bawah.
Tentu saja terdapat jurang pemisah dan tembok menjulang untk menembus sekat-sekat tersebut. Berbagai upaya dan strategi media promosi telah dilakukan, memanfaatkan media cetak, elektronik, bahkan pelibatan tenaga-tenaga penyuluh ditingkat kelurahan/desa, namun belum memberikan dampak yang signifikan.
Apa yang menjadikan jarak yang seharusnya dekat namn terasa jauh untuk dijangkau ?
Mencoba memahami dan melibatkan diri untuk menggugah kesadaran masyarakat secara komunikasi psikologi sosial, dapat menjadi kunci untuk dapat diterima dalam kerangka berpikir masyarakat.
Intinya adalah bagaimana merubah pola berpikir kita selama ini yang memandang setiap permasalahan sebagai obyek, jika kita menggunakan pola berpikir memandang setiap permasalahan sebagai subyek dan kita sebagai obyek, tentunya kita dapat memahami dan merasakan konsep berpikir masyarakat erhadap sesuatu.
In-deep merupakan sebuah pola bagaimana kita mampu menggali segala informasi yang tersembunyi dan meletakkannya kedalam konfigurasi berpikir yang sangat sederhana.
Melihat dengan mata dari seorang anak kecil untuk mencoba memahami sesuatu yang merupakan misteri yangharus dipecahkannya untuk mengenali sesuatu.
Terkadang peran seorang tenaga penyuluh kesehatan yang pontang-panting digaris terdepan sosialisasi setiap program pemerintah mengalai kesulitan untuk melakkan tugasnya. Kesan atau bahasa yang ditangkap adalah upaya mendiktekan sesuatu hal tentang yang benar dan salah dan bertentangan dengan prinsip-prinsip kesehatan kepada masyarakat, sementara mereka telah terbiasa dengan pola lingkungannya sebelum seorang petugas penyuluh kesehatan datang.
Pertanyaan seorang kolega tentang upaya apa yang harus dilakkan untuk dapat merubah pola dan kebiasaan masyarakat kelas bawah. Apa dan bagaimana cara untuk dapat menjangkau alam pikir mereka sehingga dengan mudah kita dapat menanamkan virus Pola hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tersebut?
Dalam kerangka berpikir keilmuan desain, kreatifitas adalah kunci segalanya dalam menuangkan ide dan gagasan kepada sebuah konsep. Desain sendiri adalah sebuah proses dalam pemaknaannya, sehingga ketika kita hendak memecahkan sebuah permasalahan, tentunya kita akan berupaya menggugah kreatifitas kita guna memecahkan setiap permasalahan.
Desain senantiasa dimulai dari kebutuhan yang menuntun manusia untuk berbuat sesuatu yang lebih baik, guna meningkatkan standar dan berbagai pemenuhan kebutuhan manusia. Kita diperhadapkan kepada upaya menumbuhkan daya kreatif untuk menghasilkan sebuah invensi-inovasi-modifikasi sebagai sebuah pemecahan masalah.
Lalu bagaimanakah berpikir desain itu?
Berpikir desain merupakan sebuah siklus berpikir yang terus berotasi dan berangkat dari sebuah permasalahan ataupun kebutuhan manusia, lalu berproses untuk memecahkan permasalahan namun akan memunculkan permasalahan ata kebutuhan baru yang akan terus terungkap seiring rotasinya dan berotasi kembali sesuai jawaban-jawaban yang akan dicari.
Kembali kepada tujuan promosi kesehatan, menurut Green (1990) merujuk pada tujuan promosi kesehatan, yakni; Tujuan Program; Tujuan Pendidikan; Tujuan Perilaku.
Mereview pada Tujuan Dasar Promosi Kesehatan, yakni; Peningkatan pengetahuan atau sikap masyarakat; Peningkatan Perilaku Masyarakat; Peningkatan Status Kesehatan Masyarakat.
Tentunya bukanlah perkara mudah untuk mencapai tujuan tersebut. Ketika upaya menghentikan kebiasaan merokok disosialisasikan, tentunya membutuhkan pemahaman mendalam untuk menggugah kesadaran kepada setiap individu bahwasanya kebiasaan merokok sangat berbahaya bagi kesehatan. Membuatkan aturan perundang-undangan tentang merokok menjadi satu pilihan, namun tidak menjadi bijak jika disertai dengan ancaman sanksi tertentu.
Lantas bagaimana solusi pemecahan asalah ketika segala program sosialisasi diberbagai media dirasakan tidak ampuh menjawab permasalahan yang ada ?
Tentunya kita harus mendalami konteksnya bukan pada teksnya, bahwasanya kebiasaan merokok tentunya telah melalui sejarah perjalanan panjang sehingga seolah-olah menjadi keyakinan dan unsur psikologis lainnya sebagai pembentuk karakter kegiatan merokok tersebut.
Seorang anak kecil secara iseng saya tanyakan tentang bagaimana caranya membuat ayahnya menghentikan kebiasaan merokoknya. Dengan lugas dan enteng ia menjawab ;
Kalo papa masih merokok, Billah gak mau berteman ama papa !
Jawaban Billah merupakan sebuah solusi dari aspek psikologi yang terkomunikasikan atau terdelegasikan dengan baik memanfaatkan faktor psikologi kognitif dan afektif seorang Billah terhadap ayahnya.
Komunikasi yang terjalin menjadi dasar berpijak pikiran sang ayah terhadap sugesti yang diberikan oleh sang anak, sang ayah tersadar akan harapan-harapan sang anak terhadap sang ayah. Seorang Billah sekali berbisik kepada sang ayah dengan sebuah pertanyaan ringan sebagai bagian dari serang psikologi tersebut ;
Papa janji ya, hadiri kawinan Billah kayak kawinannya Tante Ria.
Sentilan kecil yang ditujukan tanpa tendensi tertentu sebagai sebuah serangan tentu menggugah seluruh aspek-aspek psikologis sang ayah dan dibuatnya memikirkan secara mendalam beragam makna sistim simbol yang didapatkannya dari buah hatinya tercinta.
Bagaimana dengan solusi pengaplikasiannya terhadap masyarakat?
Tentunya kita dapat merotasi kembali problem solving seorang Billah melalui invensinya menyadarkan dan membuka dan menggugah ayahnya, melalui inovasi-inovasi studi kasus Si Billah, atau kita melakukan modifikasinya.
Inovasi merupakan kegitan kreatifitas kita memposisikannya sebagai sebuah inti strategi dan inisiatif. Untuk mampu dikembangkan tentunya didasari oleh empat hal, yakni; kemampan; kecepatan; keahlian; inovasi.
Inovasi memiliki langkah-langkah atau tahap-tahap pencapaiannya sebagai langkah dasar dalam menjawab kebutuhan, yakni; Memahami; Mengamati; Memvisualisasikan; Mengevaluasi dan Menyempurnakan.
Inovasi dapat kita mulai dari mata; Pemahaman yang dimulai dari sebuah pengamatan memungkinkan terjadinya sebuah inovasi. Mengungkap apa yang menjadi kebiasaan manusia, dan mempunyai kekuatan untuk mengubah aturan, terkadang berawal dari pengamatan sederhana.
Lalu bagaimana pulakah dengan proses pendalaman (In-Deep) setelah kita melakukan pengamatan ?
ada beberapa cara yang biasa dilakukan oleh para desainer, yakni : melakukan serangkaian pertanyaan-pertanyaan sesama obyek (ingat; kita memposisikan diri sebagai subyek-bukan obyek), lalu berupayalah menemukan jawaban-jawaban jujur dari posisi ini; Tetaplah dekat dengan tindakan, seraya terus menambah koleksi informasi (source); Tanamkan didiri kita bahwasanya tidak pernah ada pertanyaan yang bodoh, kita perlu pula menyadari dunia disekitar kita, siap melihat trend, realita, dan bertindak. Jangalah pernah selalu menunggu datangnya laporan atau bergantung pada bacaan di surat kabar, dan sebagainya; Temukan kejujuran, kelugasan, spontanitas dan keluguan dari mata seorang anak, kita tidak akan menemukan hal-hal klise dari sini; Terkadang kitapun merangkl seorang gila dan maniak untuk menemukan jawaban-jawaban tidak terduga dan irasional, tendensius, skeptis, dan hal lainnya.
Seorang bijak pernah berkata kepada saya dalam sebuah pertemuan tak terduga pada sebuah perjalanan diatas gerbong kelas Bisnis kereta Parahyangan menuju ke Bandung kala itu;
Dengarkanlah anak kecil di dalam diri anda.
Tetapi perhatikanlah bagaimana dunia bekerja dan anda akan menjadi sangat sadar : Siapa yang memperlakukan anda sebagai manusia-Siapa yang memperhatikan dan memikirkan tentang apa yang dapat dilakukan dengan baik.
Menarik kesimpulan dari serangkaian diskusi ringan kami. Inti dari bagaimana mendesain media sebuah promosi kesehatan adalah menemukan konsep-gagasan-ide serta metode-metode penyampaian pesan, selayaknya dimulai dari menemukan kebutuhan-kebutuhan mendasar yang sangat efektif digunakan untuk menggugah target audien yang hendak disasar, mengingat keragaman latar belakang sosial-budaya masyarakat Indonesia.
Dengan kaitkata kesehatan, kesehatan masyarakat, kreatif, media promosi, promkesh, promosi kesehatan
Orang Miskin Menderita Gizi Buruk
DEPOK – Ironis. Kota Depok yang dikelilingi sejumlah perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, ternyata menyimpan persoalan tragis: masih banyak warga yang ditemukan menderita gizi buruk.
Pak Wali Kota, bagaimana ini?
Seperti yang dialami pasangan Rudi Salam (26) dan Rini (24), warga RT 08/20 Kelurahan Bhakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Putri pertamanya, Alfianti (1,6), kini menderita gizi buruk dan masih dalam perawatan di Puskesmas Kecamatan Sukmajaya. Alfianti yang lahir normal dengan berat 2,8 kilogram (kg), dalam perkembangannya, kondisi fisiknya makin menurun.
Seperti yang dialami pasangan Rudi Salam (26) dan Rini (24), warga RT 08/20 Kelurahan Bhakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Putri pertamanya, Alfianti (1,6), kini menderita gizi buruk dan masih dalam perawatan di Puskesmas Kecamatan Sukmajaya. Alfianti yang lahir normal dengan berat 2,8 kilogram (kg), dalam perkembangannya, kondisi fisiknya makin menurun.
“Sejak putri kami lahir, perkembangan fisiknya tidak normal, karena meskipun sudah berusia 18 bulan, berat badanya masih 5,7 kilogram,” kata Rini kepada SH di Puskesmas Kecamatan Sukmajaya, Jumat (19/3) sore.
Menurut Rini, suaminya yang tidak memiliki pekerjaan tetap hanya mampu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, sedangkan untuk membeli susu, pendapatan keluarga ini tidak mencukupi.
“Kadang suami saya menganggur sampai dua bulan dan kalaupun bekerja, uang yang didapat tidak mencukupi,” tuturnya. Dia mengaku masih tinggal bersama dengan orang tua mereka.
Saat ini Alfianti masih dalam pemulihan di puskesmas dengan menggunakan surat keterangan tidak mampu (SKTM). Kondisinya sangat memprihatinkan. Selain menderita gizi buruk, ia juga mengalami gangguan kelainan jantung (ASD). Alfianti rencananya akan dioperasi di Rumah Sakit (RS) Harapan Kita, Jakarta Barat.
“Biaya operasi untuk putri saya nantinya ditanggung oleh Lembaga Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Kota Depok dan dengan menggunakan kartu SKTM. Oleh karena tidak semua kebutuhan operasi ditanggung SKTM dan LKC maka saya masih mengharapkan bantuan dari tetangga,” ujarnya. Ia menambahkan, Alfianti sudah dua bulan dirawat di Puskesmas Kecamatan Sukmajaya dan berat badannya kini sudah mencapai 6,6 kg.
Hal yang sama juga dialami pasangan keluarga Iwan Junaidi (30) dan Astri (28). Sejak kelahiran putrinya Dea Intan (1,2), keluarga ini tak mampu memenuhi kebutuhan makanan tambahan dan susu bagi putrinya. Anak ketiga dari warga Kampung Pala RT 04/08, Kelurahan Cipayung Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok ini, menderita gizi buruk dan saat ini sudah 23 hari dirawat di Puskesmas Kecamatan Sukmajaya.
“Saya masih bersyukur, putri saya bisa dirawat di puskesmas ini menggunakan kartu SKTM. Kalau dirawat di rumah sakit swasta, kami jelas tidak mampu, karena suami saya hingga sekarang tidak memiliki perkerjaan tetap,” tutur Astri, ibu Dea Intan mengeluh.
Dia mengatakan, kelahiran putri ketiganya itu berlangsung normal dengan berat badan mencapai 2,5 kg dan pada awal masuk dalam perawatan di puskesmas, berat badannya 5,5 kg. Namun, setelah dalam 23 hari dirawat, berat badan Dea kini sudah mencapai 6,3 kg.
Korban PHK
Lain halnya dengan yang dialami Fitrah Rapih Antoro (1,5), balita penderita gizi buruk dari lingkungan RT 04/12 Kelurahan Bhakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Sejak orang tuanya, Agus (34), menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) dari salah satu perusahaan swasta di Kota Depok pada Juli 2009 lalu, keluarga ini tidak mampu lagi membeli susu dan makanan tambahan bagi Fitrah.
Lain halnya dengan yang dialami Fitrah Rapih Antoro (1,5), balita penderita gizi buruk dari lingkungan RT 04/12 Kelurahan Bhakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Sejak orang tuanya, Agus (34), menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) dari salah satu perusahaan swasta di Kota Depok pada Juli 2009 lalu, keluarga ini tidak mampu lagi membeli susu dan makanan tambahan bagi Fitrah.
“Suami saya kini sudah tidak lagi bekerja, sementara untuk biaya hidup sehari-hari kami terpaksa mengandalkan orang tua,” ujar Fuji (31), ibu dari Fitrah Rapih Antoro. Dia mengatakan, sulitnya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari membuat pasangan keluarga Agus dan Fuji ini terpaksa harus mengandalkan kartu SKTM untuk pemulihan gizi putra keduanya itu.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok Hardiono me*ngatakan, hingga saat ini masih ditemukan sekitar 227 kasus balita penderita gizi buruk yang tersebar di enam kecamatan di Kota Depok. Dalam pemberantasan gizi buruk ini, pihaknya menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya kondisi ekonomi keluarga di bawah garis kemiskinan sehingga kasus gizi buruk mudah terjadi. Selain itu, kendala lain yang juga menjadi faktor utama penyebab gizi buruk adalah kebiasaan orang tua dalam mengurus anak di mana nutrisi yang baik untuk anak tidak menjadi prioritas utama sehingga penyakit ini terjadi.
Meski demikian, Hardiono berjanji pihaknya akan terus mengupayakan agar balita penderita gizi buruk terus berkurang. “Target kami sebanyak 85 persen balita di Kota Depok, bebas gizi buruk tahun 2010,” ujarnya.
Menurutnya, ada beberapa program yang dilakukan pe*me*rintah untuk menekan hal ini. Di antaranya pengadaan pos-pos gizi, penyuluhan posyandu, dan pemberian makanan tambahan pada balita.
Menurutnya, ada beberapa program yang dilakukan pe*me*rintah untuk menekan hal ini. Di antaranya pengadaan pos-pos gizi, penyuluhan posyandu, dan pemberian makanan tambahan pada balita.
“Selain itu, kita pun melakukan Program Teraupeutic Feeding Center (TFC) sebagai bentuk terapi penyembuhan balita gizi buruk di dua puskesmas di Depok, yakni Puskesmas Sukmajaya dan Cimanggis,” ujarnya.
Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Kota Depok Roy Pengharapan mengatakan, pihaknya sangat prihatin de*ngan masih banyaknya balita penderita gizi buruk yang ada di kota ini. “Untuk itu perlu dicari akar penyebabnya dan Pemkot Depok tentu yang paling bertanggung jawab dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan agar para orang tua balita gizi buruk mendapat penghasilan yang layak,” ujarnya. (str-1)
Sinar Harapan, 20 Maret 2010
——–
——–
Dimanakah janji-janji saat kampanye pemilu?
Perokok Aktive = Tidak dapat KARTU JAMKESDA
saya mengutip tulisan menarik masalah perokok. setelah kota-kota besar, semoga peraturan ini juga cepat ditiru oleh daerah lain. sehingga kemungkinan untuk dibuat dalam skalam nasional, kalo perlu di undang-undangkan.
Para perokok aktif yang selama ini masih ditoleransi kepesertaannya dalam jaminan kesehatan daerah (jamkesda) di Kota Malang, Jawa Timur, tahun 2010 ini terancam tidak akan diakomodasi lagi.
Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang Syaiful Rusdi, Senin, mengatakan, pencoretan para perokok menjadi peserta jamkesda ini masih dalam taraf wacana, belum ada kesepakatan dengan instansi terkait.
“Kami memang mengusulkan agar salah satu indikator yang dimasukkan dalam verifikasi untuk penerima jamkesda ini adalah tidak merokok. Kalau ternyata perokok aktif, ya otomatis harus dicoret dari daftar peserta,” ucap politisi dari PAN tersebut menegaskan.
Ia mengakui, wacana memasukkan kebiasaan merokok sebagai salah satu indikator penerima jamkesda tersebut, muncul setelah komisi bidang kesejahteraan dan kesehatan itu melakukan kunjungan kerja ke Jakarta Barat, belum lama ini.
Menurut dia, memasukkan kebiasaan merokok manjadi salah satu indikator jamkesda itu diharapkan berdampak lebih baik bagi yang bersangkutan. Tidak hanya baik secara finansial, tapi juga bagi kesehatan.
Msh Mau Lanjut Merokok ??
Smua Kembali Kepada diri anda masing-masing .
Dengan kaitkata askes, askeskin, indikator, jakarta, jamkesda, kesehatan, komisi D, malang, perokok aktiv, perokok pasif
UU untuk melindungi hak Ibu dan anak untuk dapetin ASI EKSKLUSIF minimal 6 BULAN
Pada bulan September 2009 yang lalu telah disahkan oleh DPR-RI, Undang-Undang Kesehatan No. 36 yang diantaranya memuat beberapa pasal terkait pemberian Air Susu Ibu sebagai berikut:
Pasal 128
•Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis.
•Selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus.
•Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum.
•Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis.
•Selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus.
•Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum.
Pasal 129
•Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif.
•Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
•Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif.
•Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 200
Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam pasal 128 ayat (2) dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam pasal 128 ayat (2) dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Pasal 201
(1)Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal190 ayat (1), Pasal 191, Pasal 192, Pasal 196, Pasal 197, Pasal 198, Pasal 199, dan Pasal 200 dilakukan oleh korporasi, selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1), Pasal 191, Pasal 192, Pasal 196, Pasal 197, Pasal 198, Pasal 199, dan Pasal 200.
(1)Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal190 ayat (1), Pasal 191, Pasal 192, Pasal 196, Pasal 197, Pasal 198, Pasal 199, dan Pasal 200 dilakukan oleh korporasi, selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1), Pasal 191, Pasal 192, Pasal 196, Pasal 197, Pasal 198, Pasal 199, dan Pasal 200.
(2) Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa:
a. pencabutan izin usaha; dan/atau
b. pencabutan status badan hukum
PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF
Disebutkan dalam Pasal 128 ayat (1) bahwa setiap bayi berhak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif sejak dilahirkan selama 6 bulan kecuali atas indikasi medis. Dalam penjelasan pasal ini disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “pemberian air susu ibu eksklusif” adalah pemberian hanya air susu ibu selama 6 bulan,dan dapat terus dilanjutkan sampai dengan 2 (dua) tahun dengan memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sebagai tambahan makanan sesuai dengan kebutuhan bayi.
Sedangkan kriteria apakah “indikasi medis” itu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “indikasi medis” dalam ketentuan ini adalah kondisi kesehatan ibu yang tidak memungkinkan memberikan air susu ibu berdasarkan indikasi medis yang ditetapkan oleh tenaga medis
Sedangkan kriteria apakah “indikasi medis” itu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “indikasi medis” dalam ketentuan ini adalah kondisi kesehatan ibu yang tidak memungkinkan memberikan air susu ibu berdasarkan indikasi medis yang ditetapkan oleh tenaga medis
Lebih lanjut lagi dinyatakan bahwa selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus yang diadakan di tempat kerja dan sarana umum [Pasal 128 ayat (2) dan ayat (3)]
Catatan AIMI tentang Pasal 128:
Tidak dijelaskan secara terperinci, apa sajakah kriteria “indikasi medis” yang dapat menyebabkan seorang ibu tidak dapat memberikan ASI. Dalam penjelasan hanya disebutkan bahwa indikasi medis ini ditetapkan oleh tenaga medis. AIMI menyarankan bahwa yang dimaksud dengan ”indikasi medis” tersebut hendaknya mengacu pada ketentuan World Health Organization (WHO) No. WHO/NMH/NHD/09.01 WHO/FCH/CAH/09.01 regarding Acceptable medical reasons for use of breast-milk substitutes tahun 2009.
Tidak dijelaskan secara terperinci, apa sajakah kriteria “indikasi medis” yang dapat menyebabkan seorang ibu tidak dapat memberikan ASI. Dalam penjelasan hanya disebutkan bahwa indikasi medis ini ditetapkan oleh tenaga medis. AIMI menyarankan bahwa yang dimaksud dengan ”indikasi medis” tersebut hendaknya mengacu pada ketentuan World Health Organization (WHO) No. WHO/NMH/NHD/09.01 WHO/FCH/CAH/09.01 regarding Acceptable medical reasons for use of breast-milk substitutes tahun 2009.
Kriteria fasilitas khusus di tempat kerja dan sarana umum untuk mendukung pemberian ASI dan ibu menyusui hendaknya dijabarkan lebih lanjut dalam peraturan pelaksana undang-undang dalam bentuk Peraturan Pemerintah, walaupun hal ini tidak dinyatakan dalam Pasal 128 UU Kesehatan.
PERAN PEMERINTAH
Peran pemerintah pun secara tegas dinyatakan dalam Pasal 129 ayat (1) yang menyatakan bahwa Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif. Kebijakan yang berupa pembuatan norma, standar, prosedur dan kriteria tersebut tersebut selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah [Pasal 239 ayat (2)]. Peraturan Pemerintah tersebut harus sudah ditetapkan paling lambat 1 (satu) tahun sejak tanggal pengundangan UU Kesehatan (Pasal 202) ini yaitu tanggal 13 Oktober 2009, sehingga PP paling lambat sudah harus dikeluarkan pada 13 Oktober 2010.
SANKSI PIDANA
Kelebihan dalam UU Kesehatan ini adalah adanya sanksi pidana yang dinyatakan secara tegas dalam Pasal 200. Sanksi pidana tersebut dikenakan bagi setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat (2). Ancaman pidana yang diberikan adalah pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
Catatan AIMI tentang Pasal 200:
Berbeda dengan beberapa peraturan perundangan yang memuat ketentuan pidana yang biasanya diawali dengan kalimat ”barang siapa”, ketentuan pidana dalam UU Kesehatan ini dimulai dengan kalimat ”setiap orang”. Perbedaannya adalah kalimat ”barang siapa” berarti orang perorangan dan badan hukum. Sedangkan ”setiap orang” berarti orang perorangan. Namun demikian, bukan berarti bila tindak pidana dilakukan oleh korporasi/badan hukum maka tidak ada sanksi pidana baginya, sesuai dengan ketentuan tentang badan hukum, maka pengurusnyalah yang bertanggung jawab atas dugaan pidana tersebut (misalnya dalam perseroan terbatas, yang bertanggung jawab adalah direktur). Lebih lanjut dalam Pasal 201 dinyatakan bahwa bila tindak pidana tersebut dilakukan oleh korporasi, selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda yang disebutkan dalam Pasal 200 [berarti pidana denda bagi korporasi yang melanggar Pasal 200 adalah paling banyak Rp. 300.000.000 (tiga ratus juta Rupiah)]. Dalam Pasal 201 ayat (2) disebutkan pula bahwa selain pidana denda, korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa:
a. pencabutan izin usaha; dan/atau
b. pencabutan status badan hukum.
a. pencabutan izin usaha; dan/atau
b. pencabutan status badan hukum.
PENGATURAN TENTANG PROMOSI SUSU FORMULA
Tidak secara spesifik disebutkan tentang pengaturan promosi susu formula, namun promosi susu formula haruslah memenuhi ketentuan dalam Pasal 110 yang berbunyi:
“Setiap orang dan/atau badan hukum yang memproduksi dan mempromosikan produk makanan dan minuman dan/atau yang diperlakukan sebagai makanan dan minuman hasil olahan teknologi dilarang menggunakan kata-kata yang mengecoh dan/atau disertai klaim yang tidak dibuktikan kebenarannya”
“Setiap orang dan/atau badan hukum yang memproduksi dan mempromosikan produk makanan dan minuman dan/atau yang diperlakukan sebagai makanan dan minuman hasil olahan teknologi dilarang menggunakan kata-kata yang mengecoh dan/atau disertai klaim yang tidak dibuktikan kebenarannya”
BERLAKUNYA UU KESEHATAN
UU Kesehatan ini berlaku pada tanggal diundangkan yaitu 13 Oktober 2009. Dengan adanya UU Kesehatan baru ini, maka Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku, sedangkan semua peraturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam UU Kesehatan ini.
REKOMENDASI AIMI ATAS UU KESEHATAN INI
Dimasukkannya pasal-pasal yang menyangkut pemberian asi sebagaimana disebutkan di atas merupakan suatu langkah maju bagi upaya peningkatan dan perlindungan pemberian ASI di Indonesia. Namun demikian, tetap diperlukan adanya peraturan pelaksana yang lebih spesifik mengatur tentang perlindungan pemberian ASI bagi ibu menyusui. Pasal-pasal tentang ASI dalam UU Kesehatan ini dapat menjadi suatu landasan yang kuat untuk diterbitkannya peraturan perundangan yang mengatur tentang pemasaran susu formula.
Dimasukkannya pasal-pasal yang menyangkut pemberian asi sebagaimana disebutkan di atas merupakan suatu langkah maju bagi upaya peningkatan dan perlindungan pemberian ASI di Indonesia. Namun demikian, tetap diperlukan adanya peraturan pelaksana yang lebih spesifik mengatur tentang perlindungan pemberian ASI bagi ibu menyusui. Pasal-pasal tentang ASI dalam UU Kesehatan ini dapat menjadi suatu landasan yang kuat untuk diterbitkannya peraturan perundangan yang mengatur tentang pemasaran susu formula.
Dengan kaitkata asi, asi eksklusif, balita, bayi, merawat bayi, perlindungan bayi, undang-undang kesehatan, uu kesehatan, uu kesehatan no 36 tahun 2009
PERAWATAN DASAR ODHA DIRUMAH
HOME BASE CARE
PERAWATAN DASAR DIRUMAH
PERAWATAN DASAR DIRUMAH
Orang Dengan HIV/AIDS (Odha) tidak selalu harus dirawat di rumah sakit karena salah satu tempat terbaik untuk merawat Odha adalah di rumah/tempat tinggal Odha itu sendiri dengan dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya. Banyak Odha dapat hidup aktif dalam jangka waktu yang lama, tidak perlu dirawat di rumah sakit. Perawatan di rumah biasanya lebih murah, lebih menyenangkan, lebih akrab dan membuatnya bisa mengatur dirinya sendiri. Penyakit yang berhubungan dengan Odha biasanya akan cepat membaik dengan kenyamanan yang dirasakan di rumah, dukungan dari teman, keluarga dan orang-orang yang dicintainya.
Perawatan Odha di rumah merupakan kesinambungan dari perawatan di rumah sakit. Perawatan di rumah adalah perawatan yang diberikan kepada Odha di tempat tinggalnya sendiri, mencakup perawatan fisik dasar, dukungan psikososial, aktivitas spiritual dan perawatan paliatif. Perawatan ini bisa dilakukan oleh Odha itu sendiri atau keluarga dalam hal ini adalah orang-orang yang mempunyai tanggungjawab utama dalam perawtan Odha di rumah (misalnya: suami/istri Odha, anak, orangtua, saudara kandung, teman, tetangga, dll), manajer kasus, perawat, bidan atau petugas kesehatan lainnya. Sedapat mungkin Odha mau mengurus diri sendiri seperti mandi, buang air besar/kecil, makan dan minum. Jika Odha tidak mampu melakukannya, keluarga adalah pemberi perawatan utama pada Odha, manajer kasus tidak mampu terus menerus bersama Odha, oleh sebab itu perlu memberi edukasi kepada keluarga cara perawatan Odha dan bagaimana keluarga dapat melindungi diri dari penularan dan tetap menjaga kesehatan diri mereka sendiri.
Dalam merawat Odha di rumah harus diingat bahwa pengaruh HIV terhadap setiap orang itu berbeda, sehingga harus diketahui perkembangan keadaan Odha dari dokter atau perawatnya mengenai perawatan apa yang diperlukan. Sering sekali bantuan yang dibutuhkan Odha bukan bantuan medis tetapi bantuan untuk melakukan pekerjaan sehari-hari seperti : memasak, membersihkan rumah, mengambil surat, berbelanja, dsb. Kita juga harus ingat bahwa merawat Odha merupakan tanggungawab yang berat , perlu kerjasama dengan Odha untuk memutuskan apa yang harus dilakukan, siapa yang harus dilibatkan, seberapa banyak kita dapat berbuat, kapan pertolongan tambahan diperlukan, dsb. Peranan keluarga dalam perawatan Odha di rumah selain dalam hal pengobatan juga membantu dalam kebutuhan sehari-hari baik secara moral maupun materi seperti :
cara membantu Odha dalam keadaan darurat
makanan atau diet yang sesuai
kegiatan olahraga yang boleh dilakukan odha
waktu untuk pemeriksaan selanjutnya/control dokter
rekreasi untuk mengurangi stress atau kejenuhan
hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan Odha
mengingatkan Odha agar selalu menjaga kebersihan diri termasuk memelihara kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut setiap hari
keteraturan dan kepatuhan minum obat
makanan atau diet yang sesuai
kegiatan olahraga yang boleh dilakukan odha
waktu untuk pemeriksaan selanjutnya/control dokter
rekreasi untuk mengurangi stress atau kejenuhan
hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan Odha
mengingatkan Odha agar selalu menjaga kebersihan diri termasuk memelihara kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut setiap hari
keteraturan dan kepatuhan minum obat
Persiapan merawat Odha di rumah
Dalam perawatan Odha di rumah, manajer kasus bertugas untuk membantu Odha/keluarganya memahami masalah, mengidentifikasi dan mencari alternatif pemecahan masalah dan membuat mereka bisa mengambil keputusan atas permasalahan yang mereka hadapi. Peran manajer kasus sebagai edukator dalam hal ini sangat dibutuhkan. Edukasi yang diberikan meliputi :
pemahaman dasar HIV/AIDS mencakup penularan dan cara pencegahan penularan HIV serta masalah-masalah atau gejala-gejala yang berkaitan dengan IDS
mengenal dan menangani masalah fisik/emosional
pemberi perawatan/keluarga juga mempunyai kebutuhan emosional
kapan membutuhkan bantuan/merujuk
Bagaimana mengelola sumberdaya yang ada dalam keluarga dan sumberdaya dalam masyarakat
bagaimana agar bisa hidup normal
Dalam persiapan perawatan Odha di rumah, sebaiknya manajer kasus berbicara dengan Odha dan keluarganya untuk mengidentifikasi kebutuhan Odha dan keluarganya, tim perawatan yang akan dilibatkan seperti keluarga, teman, perawat, dokter, buddies, manajer kasus, merencanakan apa peran dan tugas masing-masing anggota Tim yang akan mendukung Odha dan keluarga.
Dapatkan informasi tertulis yang jelas tentang obat (dosis, jadwal masing-masing obat, efek samping yang perlu diawasi) dan perawatan lain yang akan diberikan
Tanyakan pada dokter atau perawat tentang perubahan kesehatan atau perilaku Odha
Tanyakan Odha siapa yang harus dihubungi untuk dimintai pertolongan atau informasi dan kapan mereka dapat dihubungi
Buat daftar anggota Tim atau orang lain yang harus segera dihubungi, no telepon dan kapan mereka dapat dihubungi
Anggota Tim harus menjaga kesehatan diri agar dapat membantu Odha dan keluarganya. Kita tidak akan mampu merawat orang lain jika diri kita sendiri sakit atau kesal
Pertimbangkan untuk Odha bisa bergabung dengan kelompok dukungan sebaya.
Manajer kasus dan tim perawatan Odha di rumah perlu memberi edukasi/pendidikan pada Odha dan keluarga agar dapat memahami hal-hal mendasar tentang HIV/AIDS.
pemahaman dasar HIV/AIDS mencakup penularan dan cara pencegahan penularan HIV serta masalah-masalah atau gejala-gejala yang berkaitan dengan IDS
mengenal dan menangani masalah fisik/emosional
pemberi perawatan/keluarga juga mempunyai kebutuhan emosional
kapan membutuhkan bantuan/merujuk
Bagaimana mengelola sumberdaya yang ada dalam keluarga dan sumberdaya dalam masyarakat
bagaimana agar bisa hidup normal
Dalam persiapan perawatan Odha di rumah, sebaiknya manajer kasus berbicara dengan Odha dan keluarganya untuk mengidentifikasi kebutuhan Odha dan keluarganya, tim perawatan yang akan dilibatkan seperti keluarga, teman, perawat, dokter, buddies, manajer kasus, merencanakan apa peran dan tugas masing-masing anggota Tim yang akan mendukung Odha dan keluarga.
Dapatkan informasi tertulis yang jelas tentang obat (dosis, jadwal masing-masing obat, efek samping yang perlu diawasi) dan perawatan lain yang akan diberikan
Tanyakan pada dokter atau perawat tentang perubahan kesehatan atau perilaku Odha
Tanyakan Odha siapa yang harus dihubungi untuk dimintai pertolongan atau informasi dan kapan mereka dapat dihubungi
Buat daftar anggota Tim atau orang lain yang harus segera dihubungi, no telepon dan kapan mereka dapat dihubungi
Anggota Tim harus menjaga kesehatan diri agar dapat membantu Odha dan keluarganya. Kita tidak akan mampu merawat orang lain jika diri kita sendiri sakit atau kesal
Pertimbangkan untuk Odha bisa bergabung dengan kelompok dukungan sebaya.
Manajer kasus dan tim perawatan Odha di rumah perlu memberi edukasi/pendidikan pada Odha dan keluarga agar dapat memahami hal-hal mendasar tentang HIV/AIDS.
Pengertian HIV/AIDS
HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyerang sel kekebalan tubuh manusia sehingga tubuh kehilangan daya tahan dan mudah terserang berbagai penyakit. Seseorang yang telah terinfeksi HIV belum tentu terlihat sakit. Secara fisik bisa sama dengan orang yang tidak terinfeksi HIV. Seseorang sudah terinfeksi atau tidak hanya bisa diketahui melalui tes darah.
HIV tidak akan membunuh Odha karena HIV menginfeksi sel-sel darah yang berperan terhadap sistem imunitas (kekebalan) tubuh sehingga sel-sel tersebut tidak berfungsi lagi, akibatnya daya tahan tubuh semakin lama semakin menurun. Hal-hal yang mengambil kesempatan dari daya tahan tubuh yang menurun inilah yang membuat sehngga mengakibatkan kematian penderita.
HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyerang sel kekebalan tubuh manusia sehingga tubuh kehilangan daya tahan dan mudah terserang berbagai penyakit. Seseorang yang telah terinfeksi HIV belum tentu terlihat sakit. Secara fisik bisa sama dengan orang yang tidak terinfeksi HIV. Seseorang sudah terinfeksi atau tidak hanya bisa diketahui melalui tes darah.
HIV tidak akan membunuh Odha karena HIV menginfeksi sel-sel darah yang berperan terhadap sistem imunitas (kekebalan) tubuh sehingga sel-sel tersebut tidak berfungsi lagi, akibatnya daya tahan tubuh semakin lama semakin menurun. Hal-hal yang mengambil kesempatan dari daya tahan tubuh yang menurun inilah yang membuat sehngga mengakibatkan kematian penderita.
AIDS singkatan dari Aquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu kumpulan berbagai penyakit yang menyerang tubuh karena melemahnya daya tahan tubuh akibat terserang virus HIV. Seseorang dikatakan AIDS apabila sudah menampakkan berbagai gejala penyakit yang menyerang tubuh akibat hilangnya daya tahan tubuh.
Bagaimana penularan HIV ?
Cara paling umum penularan HIV adalah :
Melalui seks vagina, anal atau mulut tanpa kondom dengan seseorang yang terinfeksi HIV
Melalui penggunaan jarum suntik atau semprit bergantian dengan orang yang terinfeksi HIV
Dari ibu ke bayinya sebelum bayi dilahirkan, selama kelahiran atau melalui pemberian ASI. Tanpa intervensi, 30 % bayi yang dilahirkan oleh ibu HIV + akan terinfeksi HIV. Penggunaan obat tertentu diakhir waktu kehamilan dan selama kelahiran dapat mengurangi kemungkinan bayi terinfeksi menjadi di bawah 10%, tetapi tidak akan mencegah infeksi HIV untuk seluruh bayi
Petugas kesehatan seperti perawat, beresiko tertular HIV jika mereka tertusuk jarum yang mengandung darah yang tercemar HIV atau terpercik darah yang tercemar HIV pada mata, hidung, mulut atau pada luka atau radang yang terbuka. Hanya sedikit orang yang tinggal serumah dengan Odha atau orang yang merawat Odha pernah terinfeksi. Infeksi mungkin terjadi melalui pemakaian pisau cukur bergantian, menyentuh darah Odha pada luka atau radang yang terbuka, atau cara lain yang berhubungan dengan darah Odha.
Melalui seks vagina, anal atau mulut tanpa kondom dengan seseorang yang terinfeksi HIV
Melalui penggunaan jarum suntik atau semprit bergantian dengan orang yang terinfeksi HIV
Dari ibu ke bayinya sebelum bayi dilahirkan, selama kelahiran atau melalui pemberian ASI. Tanpa intervensi, 30 % bayi yang dilahirkan oleh ibu HIV + akan terinfeksi HIV. Penggunaan obat tertentu diakhir waktu kehamilan dan selama kelahiran dapat mengurangi kemungkinan bayi terinfeksi menjadi di bawah 10%, tetapi tidak akan mencegah infeksi HIV untuk seluruh bayi
Petugas kesehatan seperti perawat, beresiko tertular HIV jika mereka tertusuk jarum yang mengandung darah yang tercemar HIV atau terpercik darah yang tercemar HIV pada mata, hidung, mulut atau pada luka atau radang yang terbuka. Hanya sedikit orang yang tinggal serumah dengan Odha atau orang yang merawat Odha pernah terinfeksi. Infeksi mungkin terjadi melalui pemakaian pisau cukur bergantian, menyentuh darah Odha pada luka atau radang yang terbuka, atau cara lain yang berhubungan dengan darah Odha.
Bagaimana HIV tidak ditularkan
Kita tidak akan terinfeksi HIV dari udara, makanan, air, gigitan serangga, hewan, piring, pisau, garpu, sendok, Kloset/WC, cium pipi, bersalaman atau lainnya yang tidak melibatkan darah, air mani, cairan vagina, atau ASI.
Kita tidak akan terinfeksi HIV dari kotoran, cairan hidung, air liur, keringat, air mata, air seni atau muntah kecuali cairan ini bercampur darah. Kita dapat membantu Odha dengan makan, mengganti pakaian bahkan memandikannya tanpa resiko terinfeksi, asal kita dapat melindungi diri kita misalnya pakai sarung tangan sekali pakai jika harus membersihkan atau menolong Odha yang sedang diare. Cucilah tangan dengan teliti setelah melepaskan sarung tangan.
Kita tidak akan terinfeksi HIV dari udara, makanan, air, gigitan serangga, hewan, piring, pisau, garpu, sendok, Kloset/WC, cium pipi, bersalaman atau lainnya yang tidak melibatkan darah, air mani, cairan vagina, atau ASI.
Kita tidak akan terinfeksi HIV dari kotoran, cairan hidung, air liur, keringat, air mata, air seni atau muntah kecuali cairan ini bercampur darah. Kita dapat membantu Odha dengan makan, mengganti pakaian bahkan memandikannya tanpa resiko terinfeksi, asal kita dapat melindungi diri kita misalnya pakai sarung tangan sekali pakai jika harus membersihkan atau menolong Odha yang sedang diare. Cucilah tangan dengan teliti setelah melepaskan sarung tangan.
Tim yang terlibat dalam penanganan Odha sebaiknya memiliki pengetahuan penting mengenai HIV/AIDS agar pelayanan yang diberikan dapat lebih efektif. Dengan informasi yang lebih lengkap, maka kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Odha.
Pemberian perawatan
Sedapat mungkin dan selama mungkin Odha merawat diri sendiri, sehingga dia merasa lebih mandiri, dapat mengatur rencana sendiri, membuat keputusan sendiri dan melakukan apa yang diinginkan semampu Odha. Misalnya mengembangkan program olahraga, membuat perencanaan makan, dsb.
Mencegah penularan HIV di rumah
HIV tidak mudah menular, kecuali bila melakukan hubungan seksual yang tidak aman/terlindungi atau ada kontak darah dengan darah (penularan melalui darah, penggunaan jarum suntik bersama, transfusi). Virus HIV cepat mati di luar tubuh manusia. Prinsipnya resiko penularan tidak akan terjadi pada perawatan Odha, asalkan mengikuti aturan-aturan yang sudah ditetapkan seperti :
Cuci tangan dengan sabun dan air setelah mengganti seprei , baju atau setelah
terkontaminasi oleh cairan tubuh Odha (misalnya : darah, air kencing, dahak)
Tutuplah luka, baik yang ada pada perawat (keluarga) maupun Odha. Prinsipnya semua luka terbuka yang memungkinkan adanya kontak darah dengan orang lain, dengan seprei/baju Odha, harus ditutup dengan kain bersih. Gunakan potongan plastik, kertas, sarung tangan untuk menyisihkan cairan-cairan yang mungkin keluar dari luka tersebut.
Jagalah agar seprei dan baju tetap bersih agar Odha merasa nyaman dan mencegah kemungkinan timbulnya masalah kulit. Bila yang merawat bisa mengikuti aturan di atas, resiko penularan dari kontak dengan cairan tubuh Odha akan sangat rendah. Bahan-bahan yang terkontaminasi cairan tubuh Odha harus dicuci dan pisahkan dari bahan yang lain, selalu memegang bagian yang tidak terkena noda/cairan. cucilah dengan air dan sabun, bilas, keringkan dan setrika seperti biasanya.
Jangan berbagi barang-barang yang tajam seperti alat cukur, sikat gigi, jarum atau apapun yang memungkinkan terkena darah Odha. Jika terpaksa harus berbagi, alat-alat tersebut harus direbus terlebih dahulu dalam air mendidih sebelum digunakan
Jauhkan barang-barang seperti popok, tissue bekas pakai, saputangan atau apapun yang memungkinkan terkontaminasi cairan tubuh Odha. Letakkan pada tempat yang tertutup dan sulit dijangkau terutama oleh anak-anak
HIV tidak menular melalui kontak sosial, misalnya bersalaman, ngobrol, berpelukan. Akan tetapi Odha dan keluarga sedapat mungkin mneghindari infeksi yang bisa ditularkan melalui kontak sosial seperti Infeksi saluran pernafasan dan diare.
Cuci tangan dengan sabun dan air setelah mengganti seprei , baju atau setelah
terkontaminasi oleh cairan tubuh Odha (misalnya : darah, air kencing, dahak)
Tutuplah luka, baik yang ada pada perawat (keluarga) maupun Odha. Prinsipnya semua luka terbuka yang memungkinkan adanya kontak darah dengan orang lain, dengan seprei/baju Odha, harus ditutup dengan kain bersih. Gunakan potongan plastik, kertas, sarung tangan untuk menyisihkan cairan-cairan yang mungkin keluar dari luka tersebut.
Jagalah agar seprei dan baju tetap bersih agar Odha merasa nyaman dan mencegah kemungkinan timbulnya masalah kulit. Bila yang merawat bisa mengikuti aturan di atas, resiko penularan dari kontak dengan cairan tubuh Odha akan sangat rendah. Bahan-bahan yang terkontaminasi cairan tubuh Odha harus dicuci dan pisahkan dari bahan yang lain, selalu memegang bagian yang tidak terkena noda/cairan. cucilah dengan air dan sabun, bilas, keringkan dan setrika seperti biasanya.
Jangan berbagi barang-barang yang tajam seperti alat cukur, sikat gigi, jarum atau apapun yang memungkinkan terkena darah Odha. Jika terpaksa harus berbagi, alat-alat tersebut harus direbus terlebih dahulu dalam air mendidih sebelum digunakan
Jauhkan barang-barang seperti popok, tissue bekas pakai, saputangan atau apapun yang memungkinkan terkontaminasi cairan tubuh Odha. Letakkan pada tempat yang tertutup dan sulit dijangkau terutama oleh anak-anak
HIV tidak menular melalui kontak sosial, misalnya bersalaman, ngobrol, berpelukan. Akan tetapi Odha dan keluarga sedapat mungkin mneghindari infeksi yang bisa ditularkan melalui kontak sosial seperti Infeksi saluran pernafasan dan diare.
Menghindari Infeksi lainnya
Odha mempunyai daya tahan tubuh yang lemah sehingga mudah terkena infeksi. Infeksi dapat melemahkan daya tahan tubuh Odha. Beberapa cara menjaga kebersihan yang harus dijalankan oleh semua anggota keluarga termasuk Odha :
Cuci tangan sebelum : memasak, makan, menyuapi makanan dan memberi obat
Cuci tangan setelah : memakai kertas tissu toilet, mengganti popok/pakaian dalam
Gunakan air bersih (matang) untuk makan/minum terutama untuk anak-anak
Cucilah seprei/handuk/baju dengan sabun dan air
Simpanlah makanan dalam tempat tertutup sehingga tidak tercemar oleh kotoran/lalat
Bila ada anggota keluarga yang sakit, cucilah gelas sebelum digunakan orang lain
Jangan meludah disembarang tempat
Cucilah dengan air bersih buah-buahan dan sayuran segar yang langsung dimakan tanpa dimasak
Membuang sampah pada tempatnya, kelola dengan benar (ditimbun/dibakar).
Odha mempunyai daya tahan tubuh yang lemah sehingga mudah terkena infeksi. Infeksi dapat melemahkan daya tahan tubuh Odha. Beberapa cara menjaga kebersihan yang harus dijalankan oleh semua anggota keluarga termasuk Odha :
Cuci tangan sebelum : memasak, makan, menyuapi makanan dan memberi obat
Cuci tangan setelah : memakai kertas tissu toilet, mengganti popok/pakaian dalam
Gunakan air bersih (matang) untuk makan/minum terutama untuk anak-anak
Cucilah seprei/handuk/baju dengan sabun dan air
Simpanlah makanan dalam tempat tertutup sehingga tidak tercemar oleh kotoran/lalat
Bila ada anggota keluarga yang sakit, cucilah gelas sebelum digunakan orang lain
Jangan meludah disembarang tempat
Cucilah dengan air bersih buah-buahan dan sayuran segar yang langsung dimakan tanpa dimasak
Membuang sampah pada tempatnya, kelola dengan benar (ditimbun/dibakar).
Perawatan Paliatif
1.Perawatan paliatif adalah perawatan yang terpusat pada penderita dan keluarganya, ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita dan keluarganya melalui semua tindakan yang aktif dan antisipatif, preventif dan pengobatan terhadapsemua gejala untuk mengatasi penderitaan si sakit. Diperlukan pendekatan secara terpadu oleh sebuah tim yang multiprofesional, yang bekerja secara interdisipliner sepanjang perjalanan penyakitnya, dengan menempatkan upaya membina relasi dokter-pasien-keluarga yang saling menghargai dan saling mempercayai sebagai hal yang utama. Perawatan paliatif harus memperhatikan kebutuhan-kebutuhan penderita baik dari segi fisik, maupun segi intelektual, emosional, sosial dan spiritual. Ia juga menjaga otonomi penderita, menyediakan informasi yang diinginkan dan keleluasaan untuk memilih perawatan yang bagaimana yang diinginkannya.
2.Dalam perawatan paliatif ditekankan bahwa pada penderita dengan penyakit yang sudah lanjut, selain gejala-gejala fisik dan psikologik, juga timbul penderitaan yang bermula pada kondisi distress mengenai keberadaan dirinya. Hal ini sering kali merupakan hal yang kurang dipahami sebagai penyebab penderitaan pada penderita karena hal ini terkait dengan pertanyaan sentral tentang makna dan tujuan hidup, ketakutan akan kematian yang mengancam serta kenyataan bahwa mereka dalam waktu yang tidak terlalu lama akan terpisah dari orang-orang yang dicintainya untuk selama-lamanya. Pada kasus HIV/AIDS, hal ini menjadi sangat penting karena stigma dan penilaian negatif yang melekat pada mereka yang menderita penyakit ini. Tidak jarang penderita ditolak keberadaannya, dikucilkan atau diisolasi dari masyarakat. Perilaku menyimpang seperti penyalahgunaan narkotika, khususnya IDU (injecting drug use), hubungan homoseksual, hubungan heteroseksual dengan pasangan yang berganti-ganti dan lain-lainnya merupakan kondisi yang sering dikaitkan dengan HIV/AIDS. Stigma dan penilaian negatif ini juga berdampak pada keluarga yang (akan) ditinggalkannya.
3.Manusia adalah makhluk bio-psiko-sosio-kulturo-spiritual sehingga perawatan penderita haruslah menyentuh semua demensi kehidupan ini karena masing-masing dimensi akan selalu berinteraksi secara timbal-balik. Adalah manusia yang sakit yang membutuhkan pertolongan kita, bukan penyakit atau gejala-gejalanya saja yang perlu diatasi (treat the patient not only the disease). Sehingga bila penyakit tersebut sudah dalam tahap “incurable” maka perawatan suportif tidak boleh ditinggalkan untuk mengupayakan agar penderita tersebut dapat terbebas dari gejala-gejala yang akan membuatnya makin menderita. Spiritualitas disini berbicara tentang pandangan hidup seseorang serta perilakunya yang merupakan perwujudan dan expresi dari rasa keterkaitannya dengan sesuatu yang memiliki demensi transendental atau sesuatu yang lebih agung daripada dirinya.
4.Tiap manusia mempunyai berbagai macam kebutuhan dasar dan dalam kondisi terminal, kebutuhan ini akan semakin terasa. Kebutuhan dasar tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
Kebutuhan fisik yaitu terbebasnya penderita dari berbagai macam keluhan atau penderitaan/gejala fisik yang mengganggu. Perhatian dan pengamatan yang cermat dan terinci terhadap setiap keluhan yang disampaikan penderita merupakan hal yang penting untuk dapat membuat diagnosa yang tepat dan selanjutnya untuk menentukan tindakan yang tepat untuk mengatasi keluhan tersebut.
Kebutuhan psikologik berupa:
Rasa aman dan nyaman karena keyakinan bahwa dirinya berada dalam perawatan oleh para ahli yang kompeten dan keluarga/care givers yang peduli dengan keadaannya
Kebutuhan untuk mengetahui tentang penyakit yang dideritanya serta gejala-gejala yang sedang/akan dialaminya sehingga penderita tidak berada dalam keadaan ketidak-pastian yang berkepanjangan
Penderita juga ingin untuk tetap dihargai dan dianggap mampu, dengan cara melibatkannya dalam mengambil keputusan-keputusan yang terkait dengan dirinya terutama bila secara fisik ia menjadi sangat tergantung pada orang lain.
Kebutuhan sosial :
Perasaan tetap diterima oleh keluarga/care-givers-nya walaupun penampilan /perilakunya sering kali tidak menyenangkan.
Perasaan tetap dibutuhkan, dilibatkan dan diperhitungkan dalam keluarganya sehingga penderita tidak merasa menjadi beban bagi keluarganya.
Kesempatan bagi penderita untuk membebaskan diri dari keterikatannya dengan orang lain dan dibebaskan dari berbagai tanggung jawab dalam pekerjaan/keluarga yang sebelumnya dipikul penderita dengan menyerahkannya kepada orang lain.
Kebutuhan spiritual :
Kasih sayang yang diexpresikan secara nyata seperti jabat tangan, sentuhan, strokes atau belaian.
Kesempatan untuk memperbaiki hubungan-hubungan interpersonal yang terganggu diwaktu yang lalu, serta mendapatkan pengampunan atas kesalahan-kesalahannya dimasa lalu.
Keyakinan bahwa dirinya tetap dicintai dan dihargai.
Perasaan bahwa hidupnya tetap mempunyai arah/tujuan yang jelas dan berarti bagi sesamanya.
Kebutuhan fisik yaitu terbebasnya penderita dari berbagai macam keluhan atau penderitaan/gejala fisik yang mengganggu. Perhatian dan pengamatan yang cermat dan terinci terhadap setiap keluhan yang disampaikan penderita merupakan hal yang penting untuk dapat membuat diagnosa yang tepat dan selanjutnya untuk menentukan tindakan yang tepat untuk mengatasi keluhan tersebut.
Kebutuhan psikologik berupa:
Rasa aman dan nyaman karena keyakinan bahwa dirinya berada dalam perawatan oleh para ahli yang kompeten dan keluarga/care givers yang peduli dengan keadaannya
Kebutuhan untuk mengetahui tentang penyakit yang dideritanya serta gejala-gejala yang sedang/akan dialaminya sehingga penderita tidak berada dalam keadaan ketidak-pastian yang berkepanjangan
Penderita juga ingin untuk tetap dihargai dan dianggap mampu, dengan cara melibatkannya dalam mengambil keputusan-keputusan yang terkait dengan dirinya terutama bila secara fisik ia menjadi sangat tergantung pada orang lain.
Kebutuhan sosial :
Perasaan tetap diterima oleh keluarga/care-givers-nya walaupun penampilan /perilakunya sering kali tidak menyenangkan.
Perasaan tetap dibutuhkan, dilibatkan dan diperhitungkan dalam keluarganya sehingga penderita tidak merasa menjadi beban bagi keluarganya.
Kesempatan bagi penderita untuk membebaskan diri dari keterikatannya dengan orang lain dan dibebaskan dari berbagai tanggung jawab dalam pekerjaan/keluarga yang sebelumnya dipikul penderita dengan menyerahkannya kepada orang lain.
Kebutuhan spiritual :
Kasih sayang yang diexpresikan secara nyata seperti jabat tangan, sentuhan, strokes atau belaian.
Kesempatan untuk memperbaiki hubungan-hubungan interpersonal yang terganggu diwaktu yang lalu, serta mendapatkan pengampunan atas kesalahan-kesalahannya dimasa lalu.
Keyakinan bahwa dirinya tetap dicintai dan dihargai.
Perasaan bahwa hidupnya tetap mempunyai arah/tujuan yang jelas dan berarti bagi sesamanya.
5.Perawatan akhir hayat/perawatan terminal adalah suatu proses perawatan medis lanjutan yang terencana melalui diskusi yang terstuktur dan didokumentasikan dengan baik, dan proses ini terjalin sejak awal dalam proses perawatan yang umum/biasa. Dikatakan sebagai perawatan medis lanjutan karena penderita biasanya sudah masuk ke tahap yang tidak dapat disembuhkan (incurable). Melalui proses perawatan ini diharapkan penderita dapat meng-identifikasi dan meng-klarifikasi nilai-nilai dan tujuan hidupnya serta upaya kesehatan dan pengobatan yang diinginkannya seandainya kelak ia tidak lagi mampu untuk memutuskan sesuatu bagi dirinya sendiri. Atau, penderita dapat pula menunjuk seseorang yang akan membuat keputusan baginya sekiranya hal itu terjadi. Dalam perawatan ini, keluarga ikut dilibatkan sehingga dengan demikian diharapkan semua kebingungan dan konflik dikemudian hari dapat dihindari. Proses ini perlu senantiasa dinilai kembali dan di-up date secara reguler karena dalam perjalanannya tujuan perawatan dan prioritasnya sering kali berubah-ubah tergantung pada situasi/kondisi yang dihadapi saat itu.
Dipublikasi di Uncategorized
Komunikasi Perubahan Perilaku
Komunikasi Perubahan Perilaku
“Apa yang dialami oleh seseorang jika ia mulai melakukan perilaku tidak sehat?”
Perilaku tidak sehat harus dihapuskan, karenanya individu perlu:
• Mengenali perilaku merugikan
• Mengerti alternatif yang tersedia
• Dapat berperilaku sesuai pengetahuan perilaku sehat
• Menerima dukungan yang diperlukan untuk mempertahankan perilaku yang telah berubah
• Mengenali perilaku merugikan
• Mengerti alternatif yang tersedia
• Dapat berperilaku sesuai pengetahuan perilaku sehat
• Menerima dukungan yang diperlukan untuk mempertahankan perilaku yang telah berubah
Misal , seseorang dengan gangguan jantung harus paham akan makanan pantangannya, dan bagaimana makan tetap enak tanpa makan makanan yang berbahaya bagi kesehatannya, bagaimana menyiapkan dan mendapatkannya, dan ia harus senantiasa patuh makan makanan yang tidak mengganggu aktifitas jantungnya.
Perubahan perilaku perlu terus didukung melalui hubungan yang baik antara provider dengan klien , sehingga klien punya pemahaman dalam dirinya dan terbangkit motivasinya untuk tetap mempertahankan perilaku sehat.
Tantangan manajer kasus adalah merasakan sulitnya perubahan perilaku ketika ia mulai membuka diri terhadap klien guna memapankan dukungan perubahan perilaku klien.
Perubahan Perilaku
1. Model pengurangan risiko : “TERBAIK ADALAH ABSTINENSIA”
Dengan berpuasa maka kemungkinan risiko tidak terjadi. Ketika seseorang tak lagi melakukan hubungan seks atau menggunakan napza dengan jarus suntik maka risiko penularan HIV tak ada. Contoh adalah pesan kepada kawula muda “Just Say No”
Dengan berpuasa maka kemungkinan risiko tidak terjadi. Ketika seseorang tak lagi melakukan hubungan seks atau menggunakan napza dengan jarus suntik maka risiko penularan HIV tak ada. Contoh adalah pesan kepada kawula muda “Just Say No”
Pro dan kontra :
• Beberapa individu memerlukan ultimatum dan kemudian memulai perjalanan masuk kedalam jalur baik. Prinsip ini digunakan dalam pusat detoksifikasi, klien dihentikan dari NAPZA, kemudian selama masa itu diajak berdialog tentang perilaku mereka.
• Program ini agak sulit sulit diikuti meski menjamin 100% bebas terinfeksi. Kebanyakan klien sukar berhenti dan mengubah perilaku dengan cepat. Perilaku yang mereka tinggalkan adalah perilaku yang menyenamgkan mereka . Model ini tidak membiarkan alternatif lain masuk, dan kita tutup mata atas perilaku manusia yang senang pada kenikmatan.
• Beberapa individu memerlukan ultimatum dan kemudian memulai perjalanan masuk kedalam jalur baik. Prinsip ini digunakan dalam pusat detoksifikasi, klien dihentikan dari NAPZA, kemudian selama masa itu diajak berdialog tentang perilaku mereka.
• Program ini agak sulit sulit diikuti meski menjamin 100% bebas terinfeksi. Kebanyakan klien sukar berhenti dan mengubah perilaku dengan cepat. Perilaku yang mereka tinggalkan adalah perilaku yang menyenamgkan mereka . Model ini tidak membiarkan alternatif lain masuk, dan kita tutup mata atas perilaku manusia yang senang pada kenikmatan.
2. Model pengurangan risiko : “Gunakan Kondom”
Model ini tetap mengizinkan orang untuk berhubungan sex dan menggunakan NAPZA. Pertimbangan seperti ini muncul mengngat bahwa ada orang yang tidak mampu berhenti sex atau menggunakan napza, karenanya ditawarkan laternatif lain yakni sex yang aman (menggunakan kondom) dan penggunaan napza aman (tidak bertukar jarus suntik)
Model ini tetap mengizinkan orang untuk berhubungan sex dan menggunakan NAPZA. Pertimbangan seperti ini muncul mengngat bahwa ada orang yang tidak mampu berhenti sex atau menggunakan napza, karenanya ditawarkan laternatif lain yakni sex yang aman (menggunakan kondom) dan penggunaan napza aman (tidak bertukar jarus suntik)
Pro dan kontra :
• Model ini tidak dapat menjamin 100% orang tidak terinfeksi. Misalnya ketika orang orang berhubungan sex, kondom robek, maka penularan HIV dimungkinkan. Memusatkan perhatian tentang cara penggunaan kondom, membuat waktu diskusi untuk hal lainnya dengan klien menjadi berkurang, terutama untuk mengubah perilaku klien.
• Model ini tidak dapat menjamin 100% orang tidak terinfeksi. Misalnya ketika orang orang berhubungan sex, kondom robek, maka penularan HIV dimungkinkan. Memusatkan perhatian tentang cara penggunaan kondom, membuat waktu diskusi untuk hal lainnya dengan klien menjadi berkurang, terutama untuk mengubah perilaku klien.
2. Model pengurangan dampak buruk
Pengurangan dampak buruk mengunakan pendekatan “all or nothing” dalam mengubah perilaku. Model ini mengajarkan risiko adalah bagian hidup seseorang sehingga perlu membuat daftar urutan risiko individu akan infeksi HIV seperti dampaknya pada penyakit, pemutusan hubungan kerja, dan penggunaan napza. Pengurangan dampak buruk dirancang untuk memperhatikan risiko yang menempel pada setiap pilihan perilaku.
Dalam model ini terjadi perubahan perilaku bertahap dengan waktu yang panjang. Setiap perubahan perilaku positif dianggap baik dan makin mendekatkan diri pada perilaku sehat.
Pengurangan dampak buruk mengunakan pendekatan “all or nothing” dalam mengubah perilaku. Model ini mengajarkan risiko adalah bagian hidup seseorang sehingga perlu membuat daftar urutan risiko individu akan infeksi HIV seperti dampaknya pada penyakit, pemutusan hubungan kerja, dan penggunaan napza. Pengurangan dampak buruk dirancang untuk memperhatikan risiko yang menempel pada setiap pilihan perilaku.
Dalam model ini terjadi perubahan perilaku bertahap dengan waktu yang panjang. Setiap perubahan perilaku positif dianggap baik dan makin mendekatkan diri pada perilaku sehat.
Manajer kasus bersama klien bekerjasama :
• Mengenali perilaku berisiko
• Memahami mengapa klien terus melakukan perilaku berisiko
• Mengembangkan strategi untuk mengenali apa yang dapat klien mulai lakukan menuju perilaku sehat
• Mengenali perilaku berisiko
• Memahami mengapa klien terus melakukan perilaku berisiko
• Mengembangkan strategi untuk mengenali apa yang dapat klien mulai lakukan menuju perilaku sehat
Pro dan kontra :
• Salah satu contoh pengurangan dampak buruk adalah program pertukaran jarum suntik. Pecandu tahu bahwa berhenti menggunakan Napza bukan tujuan yang dapat dicapai dalam waktu singkat, ia memerlukan waktu yang panjang. Model pengurangan dampak buruk memahami sulitnya orang berhenti napza atau perilaku berisiko lainnya, karena harus mengurangi risiko dengancara membersihkan alat suntik, menyediakan alt suntik bersih, untuk menurunkan risiko infeksi HIV
• Salah satu contoh pengurangan dampak buruk adalah program pertukaran jarum suntik. Pecandu tahu bahwa berhenti menggunakan Napza bukan tujuan yang dapat dicapai dalam waktu singkat, ia memerlukan waktu yang panjang. Model pengurangan dampak buruk memahami sulitnya orang berhenti napza atau perilaku berisiko lainnya, karena harus mengurangi risiko dengancara membersihkan alat suntik, menyediakan alt suntik bersih, untuk menurunkan risiko infeksi HIV
Kesimpulan
Ketiga model dam banyak lagi, merupakan contoh model yang dapat digunakan Manajer Kasus HIV dan AIDS. Model bisa bergantian, satu orang klien dapat berganti model sesuai dengan perjalanan waktu. Isu terpenting adalah bagaimana mempertimbangkan model yang tepat bagi klien sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya.
Ketiga model dam banyak lagi, merupakan contoh model yang dapat digunakan Manajer Kasus HIV dan AIDS. Model bisa bergantian, satu orang klien dapat berganti model sesuai dengan perjalanan waktu. Isu terpenting adalah bagaimana mempertimbangkan model yang tepat bagi klien sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya.
Prose Perubahan Perilaku
• Perubahan perilaku adalah sebuah proses, dan bertahap. Memahami tahapan membantu penguatan proses konseling dan penting diketahui bahwa tidak ada perubahan yang mutlak, sesuai dengan model.
• Seorang klien dapat berubah-rubah tahapannya sampai pada suatu saat ia dapat berhasil berubah. Tahapan ini adalah alat untuk menilai klien sampai tahap mana ia berubah perilakunya.
• Perubahan perilaku adalah sebuah proses, dan bertahap. Memahami tahapan membantu penguatan proses konseling dan penting diketahui bahwa tidak ada perubahan yang mutlak, sesuai dengan model.
• Seorang klien dapat berubah-rubah tahapannya sampai pada suatu saat ia dapat berhasil berubah. Tahapan ini adalah alat untuk menilai klien sampai tahap mana ia berubah perilakunya.
Tahapan Perubahan Perilaku
1. Tahu/Sadar
2. Bermakna bagi diri
3. Menimbang untung dan rugi
4. Membangun kemampuan
5. Uji coba
6. Perubahan perilaku
1. Tahu/Sadar
2. Bermakna bagi diri
3. Menimbang untung dan rugi
4. Membangun kemampuan
5. Uji coba
6. Perubahan perilaku
Tahu atau sadar
Penting untuk memeriksa pengetahuan dan kesadaran klien tentang perilaku berisiko mereka . seorang klien perlu memahami risiko akibat perilakunya sebelum mereka mau mengubahnya. Pertanyaan terbuka dapat digunakan untuk menilai
Penting untuk memeriksa pengetahuan dan kesadaran klien tentang perilaku berisiko mereka . seorang klien perlu memahami risiko akibat perilakunya sebelum mereka mau mengubahnya. Pertanyaan terbuka dapat digunakan untuk menilai
Bermakna bagi diri
Untuk mengerti makna HIV dan AIDS bagi diri dan sejauh mana dirinya masuk, perlu pemahaman akan perjalanan penyakit HIV dan AIDS.
Untuk mengerti makna HIV dan AIDS bagi diri dan sejauh mana dirinya masuk, perlu pemahaman akan perjalanan penyakit HIV dan AIDS.
Klien dapat berespon akan risikonya terhadap infeksi HIV dan AIDS melalui:
• Mengetahui bahwa perilakunya membuat mereka mengalami risiko terinfeksi HIV dan AIDS
• Tidak mau menerima atau memahami bahwa perilakunya membawa kedalam risiko infeksi HIV dan AIDS
• Memahami risiko dan merasa tidak berdaya, putus asa dan tidak mampu mengubah perilaku
• Mengetahui bahwa perilakunya membuat mereka mengalami risiko terinfeksi HIV dan AIDS
• Tidak mau menerima atau memahami bahwa perilakunya membawa kedalam risiko infeksi HIV dan AIDS
• Memahami risiko dan merasa tidak berdaya, putus asa dan tidak mampu mengubah perilaku
Manajer Kasus dapat membantu klien mengenali akibat perilaku yang menempatkan seseorang dalam risiko terinfeksi HIV
Menimbang Untung dan Rugi
Mengerti untung rugi akan mendorong perubahan perilakunya. Pertimbangkan pro dan kontr diatas perlu menjadi bahan pertimbangan, antara masih ingin mendapat kenikmatan dan belum sepenuhnya mengutamakan keselamatan. Bantulah klien dalam pengungkapan rasa kehilangan mereka ketika perilaku lama ditinggalkan.
Mengerti untung rugi akan mendorong perubahan perilakunya. Pertimbangkan pro dan kontr diatas perlu menjadi bahan pertimbangan, antara masih ingin mendapat kenikmatan dan belum sepenuhnya mengutamakan keselamatan. Bantulah klien dalam pengungkapan rasa kehilangan mereka ketika perilaku lama ditinggalkan.
Membangun Kemampuan
Membangun kemampuan merupakan persiapan perubahan perilaku, termasuk meningkatkan keterampilan praktis dan dukungan untuk manajemen risiko/bayaran yang harus ditanggung sebagai akibatnya.
Membangun kemampuan merupakan persiapan perubahan perilaku, termasuk meningkatkan keterampilan praktis dan dukungan untuk manajemen risiko/bayaran yang harus ditanggung sebagai akibatnya.
Strategi konseling selama membangun kemampuan termasuk:
• Memberikan klien keterampilan praktis, spesifik, mampu dikerjakan.
• Perankan permainan peran perubahan perilaku sehingga mendapat kepastian klien dapat melakukannya
Manajer kasus tidak hanya mendemonstrasikan penggunaan kondom tapi juga menyampaikan perlindungan apa yang diperoleh dari kondom
• Memberikan klien keterampilan praktis, spesifik, mampu dikerjakan.
• Perankan permainan peran perubahan perilaku sehingga mendapat kepastian klien dapat melakukannya
Manajer kasus tidak hanya mendemonstrasikan penggunaan kondom tapi juga menyampaikan perlindungan apa yang diperoleh dari kondom
Uji coba
Uji coba adalah saat dimana klien mencoba menerapkan langkah mengubah perilaku di dalam kehidupan sehari-hari, bukan dalam sesi konseling. Strategi dalam masa uji coba tersebut adalah :
• Merencanakan menghadapi hambatan yang akan dihadapi klien
• Membuat kerangka ulang atas kegagalan yang dialami klien – manajer kasus perlu menanamkan dalam benak klien model yang yang diikuti sesuai alur perubahan perilaku guna mengakhiri kegagalan yang ditemui klien.
Uji coba adalah saat dimana klien mencoba menerapkan langkah mengubah perilaku di dalam kehidupan sehari-hari, bukan dalam sesi konseling. Strategi dalam masa uji coba tersebut adalah :
• Merencanakan menghadapi hambatan yang akan dihadapi klien
• Membuat kerangka ulang atas kegagalan yang dialami klien – manajer kasus perlu menanamkan dalam benak klien model yang yang diikuti sesuai alur perubahan perilaku guna mengakhiri kegagalan yang ditemui klien.
Meskipun melalui uji coba tidak selalu berhasil, adanya sedikit perubahan perilaku dapat dipertimbangkan sebagai keberhasilan dan harus didukung oleh manajer kasus.
Mempertahankan perubahan perilaku
• Mempertahankan perubahan perilaku seksual aman sangat bergantung dari intervensi manajer kasus yang terus menerus dan berulang-ulang
• Diharapkan perubahan perilaku akan seiring dengan perubahan kehidupan seseorang, misalnya : penggunaan kondom bisa dihentikan bila seseorang yang tidak terinfeksi melaksanakan hubungan monogamy dengan orang lain yang HIV negatif.
• Bagaimanapun perubahan lainnya atau kembali pada perilaku yang kurang aman dapat merupakan selangkah mundur dari perilaku aman yang lalu dan menyebabkan infeksi HIV.
• Perilaku risiko tinggi dan infeksi baru akan meningkat bila intervensi dihentikan , kerenanya pengurangan risiko dapat terus berlangsung tergantung pada program perubahan perilaku yang berlanjut dan dukungan manajer kasus.
• Mempertahankan perubahan perilaku seksual aman sangat bergantung dari intervensi manajer kasus yang terus menerus dan berulang-ulang
• Diharapkan perubahan perilaku akan seiring dengan perubahan kehidupan seseorang, misalnya : penggunaan kondom bisa dihentikan bila seseorang yang tidak terinfeksi melaksanakan hubungan monogamy dengan orang lain yang HIV negatif.
• Bagaimanapun perubahan lainnya atau kembali pada perilaku yang kurang aman dapat merupakan selangkah mundur dari perilaku aman yang lalu dan menyebabkan infeksi HIV.
• Perilaku risiko tinggi dan infeksi baru akan meningkat bila intervensi dihentikan , kerenanya pengurangan risiko dapat terus berlangsung tergantung pada program perubahan perilaku yang berlanjut dan dukungan manajer kasus.
Unsur penting komunikasi perubahan perilaku dan menyuntik aman
1. Penilaian risiko dan kerentanan
Klien perlu menilai risiko dirinya akan infeksi HIV dan beberapa hambatan dalam penggunaan kondom atau menyuntik aman.
Misalnya : hambatan dalam ketersediaan kondom atau jarum steril
2. Penjelasan tentang kondom, penggunaan kondom dan menyuntik aman
Pencegahan atau pesan penggunaan harus ditekankan guna memotivasi kebutuhan,kepercayaan, keperdulian dan kesiapan klien
3. Keterampilan menggunakan kondom dan menyuntik aman
Cara menyuntik dan menggunakan kondom yang betul perlu diperhatikan dan diperkuat. Keterampilan berpikir kritis, mengambil keputusan dan komunikasi dapat ditingkatkan dengan mengemukakan keuntungan penggunaan kondom dan menyuntik aman dam mampu bernegosiasi dalam penggunaannya.
4. Membuat rencana
Dorong klien untuk merencanakan menggunakan kondom atau menyuntik aman dan bagaimana mempertahankannya.
5. Sumber daya dan dana
Manajer kasus harus mampu memberi saran sesuai dengan kemampuan dana dan daya yang tersedia tanpa meninggalkan segi kualitas kondom, langkah untuk menggunakan cara menyuntik yang aman dan jika mungkin memberikan akses penyediaan bahan habis pakai sesuai dengan kemampuan.
6. Penguatan dan Komitmen
Dalam membuat perencanaan manajer kasus harus meninjau kembali perencanaan klien untuk menggunakan kondom atau menyuntik aman dan jadwalkan pertemuan secara berkala.
7. Lingkungan yang mendukung
Ciptakan lingkungan yang mendukunguntuk penggunaan kondom dan menyuntik yang aman , termasuk pilihan jenis kondom dan suntikan, sediakan bahan KIE(Brosur/leaflet) dan pelayanan konseling rujukan/hotline.
1. Penilaian risiko dan kerentanan
Klien perlu menilai risiko dirinya akan infeksi HIV dan beberapa hambatan dalam penggunaan kondom atau menyuntik aman.
Misalnya : hambatan dalam ketersediaan kondom atau jarum steril
2. Penjelasan tentang kondom, penggunaan kondom dan menyuntik aman
Pencegahan atau pesan penggunaan harus ditekankan guna memotivasi kebutuhan,kepercayaan, keperdulian dan kesiapan klien
3. Keterampilan menggunakan kondom dan menyuntik aman
Cara menyuntik dan menggunakan kondom yang betul perlu diperhatikan dan diperkuat. Keterampilan berpikir kritis, mengambil keputusan dan komunikasi dapat ditingkatkan dengan mengemukakan keuntungan penggunaan kondom dan menyuntik aman dam mampu bernegosiasi dalam penggunaannya.
4. Membuat rencana
Dorong klien untuk merencanakan menggunakan kondom atau menyuntik aman dan bagaimana mempertahankannya.
5. Sumber daya dan dana
Manajer kasus harus mampu memberi saran sesuai dengan kemampuan dana dan daya yang tersedia tanpa meninggalkan segi kualitas kondom, langkah untuk menggunakan cara menyuntik yang aman dan jika mungkin memberikan akses penyediaan bahan habis pakai sesuai dengan kemampuan.
6. Penguatan dan Komitmen
Dalam membuat perencanaan manajer kasus harus meninjau kembali perencanaan klien untuk menggunakan kondom atau menyuntik aman dan jadwalkan pertemuan secara berkala.
7. Lingkungan yang mendukung
Ciptakan lingkungan yang mendukunguntuk penggunaan kondom dan menyuntik yang aman , termasuk pilihan jenis kondom dan suntikan, sediakan bahan KIE(Brosur/leaflet) dan pelayanan konseling rujukan/hotline.
Membantu klien memahami risiko mereka
1. Penilaian risiko personal dan kerentanan
Klien butuh penilaian risiko personal akan infeksi HIV dan berbagai hambatan penggunaan kondom dan suntikan aman
Risiko
• Tingkat risiko HIV individual maupun populasi yang diperoleh sebagai akibat aktivitas tertentu :
Berhubungan sex vaginal dengan atau tanpa IMS
Berhubungan sex anal
Penggunaan bersama jarum suntik
Tranfusi tanpa uji tapis
Kerentanan
• Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kerentanan, misalnya:
Tekanan ekonomi dalam keluarga
Kurangnya informasi AIDS pada remaja dan dewasa muda
Kurangnya keterampilan pengambilan keputusan yang rasional
Ketidak mampuan mengakses pelayanan dan alat kesehatan
Ketidak mampuan mempertahankan hak
1. Penilaian risiko personal dan kerentanan
Klien butuh penilaian risiko personal akan infeksi HIV dan berbagai hambatan penggunaan kondom dan suntikan aman
Risiko
• Tingkat risiko HIV individual maupun populasi yang diperoleh sebagai akibat aktivitas tertentu :
Berhubungan sex vaginal dengan atau tanpa IMS
Berhubungan sex anal
Penggunaan bersama jarum suntik
Tranfusi tanpa uji tapis
Kerentanan
• Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kerentanan, misalnya:
Tekanan ekonomi dalam keluarga
Kurangnya informasi AIDS pada remaja dan dewasa muda
Kurangnya keterampilan pengambilan keputusan yang rasional
Ketidak mampuan mengakses pelayanan dan alat kesehatan
Ketidak mampuan mempertahankan hak
2. Penjelasan atas kondom, penggunaannya dan cara menyuntik yang aman
Pesan pencegahan /penggunaan kondom atau cara menyuntik aman harus dirancang untuk meningkatkan motivasi dan memenuhi kebutuhan, keyakinan, keperdulian, dan kesiapan klien.
Diantara alat kontrasepsi, kondom laki-laki merupakan alat pelindung yang paling aman melawan IMS, termasuk HIV dan AIDS. Jika digunakan secara konsisten kondom laki-laki merupakan alat kontrasepsi yang tinggi efektifitasnya.
Kondom perempuan juga merupakan alat proteksi melawan IMS termauk HIV dan AIDS. Metode hambatan melalui vagina seperti diafragma, servikal caps, sponge, dan spermisid kurang efektif, meskipun digunakan bersama spermisid.
Tantangan terbesar kesehatan masyarakat dalam menurunkan penyakit HIV dan AIDS dan IMS lainnya dengan alasan tertentu tidak menggunakan kondom , termasuk takut pada reaksi pasangan, penolakan pasangan, kurangnya rasa percaya pada kondom, kurangnya akses pada kondom atau menurunnya kenikmatan. Sebagai tambahan, petugasKB sering mendorong klien mempertimbangkan menggunakan kontrasepsi yang lebih efektif, seperti KB suntik, dan menomor duakankondom sebagai alat pencegah kehamilan.
Meskipun pada kenyataannya kondom merupakanalat pelindung terhadap IMS bacterial seperti GO, klamidia, mudah ditularkan, karenanya penggunaan kondom secara konsisten amatlah penting. Mempromosikan komdom kepada laki-laki oleh petugas KB dan kesehatan membantu menurunkan angka infeksi baru.
Orang cenderung menghindari penggunaan kondom, jika mereka percaya bahwa pasangannya “aman”. Menggunakan kondom dengan mengubah perilaku akan pasangan seksual tidaklah mengurangi risiko penularan IMS, sebagai contoh pandangan PSK terhadap risikonya dengan pelanggan tetap, pelanggan tidak tetap atau pasangan hidup.
Pesan pencegahan /penggunaan kondom atau cara menyuntik aman harus dirancang untuk meningkatkan motivasi dan memenuhi kebutuhan, keyakinan, keperdulian, dan kesiapan klien.
Diantara alat kontrasepsi, kondom laki-laki merupakan alat pelindung yang paling aman melawan IMS, termasuk HIV dan AIDS. Jika digunakan secara konsisten kondom laki-laki merupakan alat kontrasepsi yang tinggi efektifitasnya.
Kondom perempuan juga merupakan alat proteksi melawan IMS termauk HIV dan AIDS. Metode hambatan melalui vagina seperti diafragma, servikal caps, sponge, dan spermisid kurang efektif, meskipun digunakan bersama spermisid.
Tantangan terbesar kesehatan masyarakat dalam menurunkan penyakit HIV dan AIDS dan IMS lainnya dengan alasan tertentu tidak menggunakan kondom , termasuk takut pada reaksi pasangan, penolakan pasangan, kurangnya rasa percaya pada kondom, kurangnya akses pada kondom atau menurunnya kenikmatan. Sebagai tambahan, petugasKB sering mendorong klien mempertimbangkan menggunakan kontrasepsi yang lebih efektif, seperti KB suntik, dan menomor duakankondom sebagai alat pencegah kehamilan.
Meskipun pada kenyataannya kondom merupakanalat pelindung terhadap IMS bacterial seperti GO, klamidia, mudah ditularkan, karenanya penggunaan kondom secara konsisten amatlah penting. Mempromosikan komdom kepada laki-laki oleh petugas KB dan kesehatan membantu menurunkan angka infeksi baru.
Orang cenderung menghindari penggunaan kondom, jika mereka percaya bahwa pasangannya “aman”. Menggunakan kondom dengan mengubah perilaku akan pasangan seksual tidaklah mengurangi risiko penularan IMS, sebagai contoh pandangan PSK terhadap risikonya dengan pelanggan tetap, pelanggan tidak tetap atau pasangan hidup.
Isu Gender
Menjawab isu gender sama pentingnya dengan memusatkan perhatian terhadap peningkatan penggunaan kondom. Konsistensi, tetap bertahan menggunakan kondom, merupakan bentuk perubahan perilaku. Perilaku seksual laki-laki berkaitan dengan keperkasaan. Pada banyak budaya, asumsi tentang maskulinitas dapat meningkatkan penggunaan alcohol atau perilaku tindak kekerasan terhadap perempuan, yang dapat meningkatkan perilaku seksual berisiko. Perempuan juga merasa kecewa dalam melakukan negosiasi penggunaan kondom dengan pasangannya.
Menjawab isu gender sama pentingnya dengan memusatkan perhatian terhadap peningkatan penggunaan kondom. Konsistensi, tetap bertahan menggunakan kondom, merupakan bentuk perubahan perilaku. Perilaku seksual laki-laki berkaitan dengan keperkasaan. Pada banyak budaya, asumsi tentang maskulinitas dapat meningkatkan penggunaan alcohol atau perilaku tindak kekerasan terhadap perempuan, yang dapat meningkatkan perilaku seksual berisiko. Perempuan juga merasa kecewa dalam melakukan negosiasi penggunaan kondom dengan pasangannya.
Remaja dan Dewasa muda
Dorong anak muda untuk menggunakan kondom dan mengembangkan keterampilan menolak hubungan seksual yang tidak diinginkan, suatu hal yang penting. Secara global, infeksi HIv begitu cepat meningkat pada mereka yang berusia dibawah 25 tahun, terutama perempuan. Orang muda tidak berpengalaman menggunakan kondom, merasa tidak akan berisiko, melakukan seks secara spontan, dan malu menyela hubungan seks dengan memasang kondom. Beberapa perempuan muda memerlukan keterampilan menolak hubungan seks yang berisiko dengan pasangan laki-laki, terutama yang berumur lebih tua.
Dorong anak muda untuk menggunakan kondom dan mengembangkan keterampilan menolak hubungan seksual yang tidak diinginkan, suatu hal yang penting. Secara global, infeksi HIv begitu cepat meningkat pada mereka yang berusia dibawah 25 tahun, terutama perempuan. Orang muda tidak berpengalaman menggunakan kondom, merasa tidak akan berisiko, melakukan seks secara spontan, dan malu menyela hubungan seks dengan memasang kondom. Beberapa perempuan muda memerlukan keterampilan menolak hubungan seks yang berisiko dengan pasangan laki-laki, terutama yang berumur lebih tua.
Lelaki dan perempuan muda lebih berpikir melindungi diri dari kehamilan daripada IMS. Berikan pesan tentang kedua hal ini, yang dapat diproteksi dengan kondom yang berkualitas.
Kondom dalam jangkauan
Program KB, klinik dan apotik pada beberapa Negara tidak mau menyediakan kondom kepada orang yang belum menikah. Akses ke kondom untuk orang muda sulit karena stigma, malu, dan lain-lain. Kondom akan lebih mudah dijangkau orang muda jika dijual di toko klontong.
Program KB, klinik dan apotik pada beberapa Negara tidak mau menyediakan kondom kepada orang yang belum menikah. Akses ke kondom untuk orang muda sulit karena stigma, malu, dan lain-lain. Kondom akan lebih mudah dijangkau orang muda jika dijual di toko klontong.
Banyak laki-laki dan perempuan menolak menggunakan kondom karena hilangnya kenikmatan, namun ada jenis kondom yang menyenangkan untuk dipakai. Tidak seperti kondom lateks laki-laki, terbuat dari polyurethane,misalnya : memfasilitasi perpindahan panas tubuh sehingga meningkatkan kenikmatan. Beberapa contoh produk kondom dirancang lebih mudah digunakan, dan tidak membuat orang alergi. Kondom lateks dapat menimbulkan alergi bagi yang tidak tahan. Penggunaan lubrikan pada kondom juga meningkatkan kenikmatan, mengurangi gesekan dan risiko pecah.
Cara menyuntik aman
Penularan melalui penggunaan suntikan lebih efektif daripada berhubungan seks tanpa kondom. Penggunaan jarum suntik mempunyai hubungan yang erat satu sama lain, sehingga seringkali bertukar jarum tanpa dibersihkan terlebih dahulu, sehingga dalam populasi HIV sangatmudah menyebar.
Penularan melalui penggunaan suntikan lebih efektif daripada berhubungan seks tanpa kondom. Penggunaan jarum suntik mempunyai hubungan yang erat satu sama lain, sehingga seringkali bertukar jarum tanpa dibersihkan terlebih dahulu, sehingga dalam populasi HIV sangatmudah menyebar.
Seperti juga orang muda yang sedang dalam masa seksual aktif, penggunaan Napza suntik dapat menularkan HIV melalui hubungan seksual yang tidak aman. Beberapa negar sepertisebagian daerah Cina, India, Myanmar, banyak perempuan mendapatkan infeksi melaui hubungan seksual dengan pasangan pengguna Napza suntik. Pengguna napza suntik juga memberi kontribusipenularan HIV dari ibu ke anak.
Cara utama menghindari penularan HIV pada mereka yang secara seksual aktif adalah dengan menggunakan kondom secara benar, konsisten, atau menghindari penetrasi seksual.
Penularan lewat jarum suntik dapat ditrunkan melalui hal dibawah ini :
o Berhenti menggunakan napza melaui suntikan
o Gunakan jarum, alat suntikdan peralatan steril setiap kali.
o Tidak menggunakan alat suntik bersama
o Cuci peralatan diantara penggunaan
o Berhenti menggunakan napza melaui suntikan
o Gunakan jarum, alat suntikdan peralatan steril setiap kali.
o Tidak menggunakan alat suntik bersama
o Cuci peralatan diantara penggunaan
Cara terpenting membuat jarum tetap digunakan secara bersih adalah dengan tersedianya program pertukaran jarum suntik. Program ini mempunyai beberapa keuntungan, yakni menurunkan penggunaan jarum suntik terkontaminasi, sehingga menurunkan penyebaran HIV baru secara umum. Juga dengan cara menurunkan penggunaan jarum bersama dan menggunakan peralatan suntik bekas pakai. Terbukti cara ini selain menurunkan penularan HIV juga tidak meningkatkan penggunaan napza illegal. Beberapa Negara tidak mengizinkan program seperti ini, baik secara hukum maupun maupun kebijakannya. Jika program pertukaran jarum secara hokum tidak dibenarkan, maka pencucian alat suntik adalah cara yang dapat diterima untuk penggunaan cara suntik aman.
3. keterampilan penggunaan kondom dan suntui aman
Keterampilan praktis klien dalam menggunakan kondom dan praktek menyuntik aman harus diamati dan diperkuat.
Keterampilan praktis klien dalam menggunakan kondom dan praktek menyuntik aman harus diamati dan diperkuat.
Cara menggunakan kondom laki-laki :
1. Sarankan untuk menyiapkan dan memutuskan mengunakan kondom sebelum berhubungan seks, untuk menghindari kemungkinan “lupa” atau sudah terlanjur.
2. Periksabatas kadaluarsa, pastikan tidak lebih dari 4 tahun keluar dari pabrik
3. Tekan bungkus kondom dengan jari untuk memastikan bungkusnya utuh.
4. Robek bungkusnya, jangan menggunakan alat tajam untuk menghindari kondom robek.
5. Pasang kondom pada saat penis ereksi.
6. Pastikan bagian bergulung diisi luar. Tekan ujung kondom dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengeluarkan udara.
7. Letakan puncak kondom pada ujung penisdan gunakan tangan lain untuk mendorong gulungan kondom menyusuri batang penis sampai pangkal.
8. Gunakan kondom selama berhubungan seks
9. Keluarkan penis setelah ejakulasi dan masih ereksi, jaga kondom tidak mengeluarkan ejakulatnya.
10. Usahakan pasangan yang melepaskan kondom dari penis, untuk menghindari infeksi dari cairan yang berada di permukaan kondom
11. Ikat kondom untuk menghindaritumpahnya cairan ejakulat, bungkus dengan kertas toilet, buang segera di tempat yang tidak terjangkau. Jangan buang ke dalam lubang toilet.
1. Sarankan untuk menyiapkan dan memutuskan mengunakan kondom sebelum berhubungan seks, untuk menghindari kemungkinan “lupa” atau sudah terlanjur.
2. Periksabatas kadaluarsa, pastikan tidak lebih dari 4 tahun keluar dari pabrik
3. Tekan bungkus kondom dengan jari untuk memastikan bungkusnya utuh.
4. Robek bungkusnya, jangan menggunakan alat tajam untuk menghindari kondom robek.
5. Pasang kondom pada saat penis ereksi.
6. Pastikan bagian bergulung diisi luar. Tekan ujung kondom dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengeluarkan udara.
7. Letakan puncak kondom pada ujung penisdan gunakan tangan lain untuk mendorong gulungan kondom menyusuri batang penis sampai pangkal.
8. Gunakan kondom selama berhubungan seks
9. Keluarkan penis setelah ejakulasi dan masih ereksi, jaga kondom tidak mengeluarkan ejakulatnya.
10. Usahakan pasangan yang melepaskan kondom dari penis, untuk menghindari infeksi dari cairan yang berada di permukaan kondom
11. Ikat kondom untuk menghindaritumpahnya cairan ejakulat, bungkus dengan kertas toilet, buang segera di tempat yang tidak terjangkau. Jangan buang ke dalam lubang toilet.
Cara menggunakan kondom perempuan :
1. Sarankan untuk menyiapkan dan memutuskan mengunakan kondom sebelum berhubungan seks, untuk menghindari kemungkinan “lupa” atau sudah terlanjur.
2. Periksabatas kadaluarsa, pastikan tidak lebih dari 4 tahun keluar dari pabrik
3. Tekan bungkus kondom dengan jari untuk memastikan bungkusnya utuh.
4. Robek bungkusnya, jangan menggunakan alat tajam untuk menghindari kondom robek.
5. Lihat kondom apakah utuh
6. Seka bagian dalam kondom agar lubrikan menyebar, jika perlu tambahkan lubrikan
7. Cari posisi tubuh yang nyaman untuk pemasangan kondom
8. Pegang bagian ujung tertutup kondom, cincin dalam terletak pada ujung kondom yang tertutup.
9. Pilin cincin bagian dalan dengan ujung ibu jari dan jari tengah sampai berbentuk seperti angka delapan.
10. Buka bibir vagina dengan tangan yang lain, masukan kondom diantara dua bibir.
11. Gunakan telunjuk untuk mendorong kondom kedalam sampai jari menyentuh tulang kemaluan dari dalam vagina
12. Pastika cincin bagian luar terbuka, berada berlawanan denga cincin bagian dalam
13. Pegang peis dan masukan kealam kondom, jika terdengar bunyi-bunyian maka penis belum betulposisinya,hentikan hubungan seks dan ganti dengan kondom baru
14. Setelah selesai berhubungan seks dan peis sudah dicabut, pilin cincin keluar agar cairan tidak tumpah.tarik kondom dari vagina.
15. Bungkus dengan kertas toilet, buang segera di tempat yang tidak terjangkau. Jangan buang ke dalam lubang toilet
1. Sarankan untuk menyiapkan dan memutuskan mengunakan kondom sebelum berhubungan seks, untuk menghindari kemungkinan “lupa” atau sudah terlanjur.
2. Periksabatas kadaluarsa, pastikan tidak lebih dari 4 tahun keluar dari pabrik
3. Tekan bungkus kondom dengan jari untuk memastikan bungkusnya utuh.
4. Robek bungkusnya, jangan menggunakan alat tajam untuk menghindari kondom robek.
5. Lihat kondom apakah utuh
6. Seka bagian dalam kondom agar lubrikan menyebar, jika perlu tambahkan lubrikan
7. Cari posisi tubuh yang nyaman untuk pemasangan kondom
8. Pegang bagian ujung tertutup kondom, cincin dalam terletak pada ujung kondom yang tertutup.
9. Pilin cincin bagian dalan dengan ujung ibu jari dan jari tengah sampai berbentuk seperti angka delapan.
10. Buka bibir vagina dengan tangan yang lain, masukan kondom diantara dua bibir.
11. Gunakan telunjuk untuk mendorong kondom kedalam sampai jari menyentuh tulang kemaluan dari dalam vagina
12. Pastika cincin bagian luar terbuka, berada berlawanan denga cincin bagian dalam
13. Pegang peis dan masukan kealam kondom, jika terdengar bunyi-bunyian maka penis belum betulposisinya,hentikan hubungan seks dan ganti dengan kondom baru
14. Setelah selesai berhubungan seks dan peis sudah dicabut, pilin cincin keluar agar cairan tidak tumpah.tarik kondom dari vagina.
15. Bungkus dengan kertas toilet, buang segera di tempat yang tidak terjangkau. Jangan buang ke dalam lubang toilet
Dipublikasi di Uncategorized
Dengan kaitkata anal seks, gay, HIV, hubungan seks, komunikasi, komunikasi perubahan perilaku, narkoba, nude, perubahan perilaku, seks
distribusi kondom, cara paling efektif cegah penyebaran HIV
Pemasaran Sosial merupakan proses untuk mempengaruhi perilaku manusia dalam skala besar dengan menggunakan prinsip-prinsip pemasaran untuk tujuan masyarakat dan bukan untuk keuntungan komersial.
(Smith, W.A. Academy for Education Development, Washington D.C., 1999)
(Smith, W.A. Academy for Education Development, Washington D.C., 1999)
Pemasaran Sosial merupakan strategi untuk perubahan perilaku yang memadukan elemen pendekatan tradisional dan perubahan sosial dalam suatu perencanaan dan kerangka kerja yang terpadu dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan ketrampilan dalam pemasaran. Pemasaran sosial memiliki tujuan untuk menjawab permasalahan sosial, tidak hanya mendapatkan keuntungan komersial.
Praktisi pemasaran sosial bertujuan untuk mengubah perilaku sehingga tujuan dari program pemasaran sosial bukanlah supaya KD mengetahui kondom dan manfaatnya, melainkan agar KD menggunakan kondom secara konsisten. Para praktisi pemasaran sosial bertujuan agar KD membeli dan menggunakan produk yang mereka tawarkan (yaitu kondom).
Pemasaran sosial berdasarkan pada falsafah pertukaran (Philosophy Of Exchange). Pertukaran artinya kedua pihak (penjual dan pembeli) harus menerima sesuatu yang mereka perlukan atau inginkan agar pertukaran ini berhasil.
· Saya ingin mengurangi risiko tertular HIV, jadi saya akan menggunakan kondom saat berhubungan seksual.” (WPS)
· “Saya ingin menurunkan prevalensi HIV dan tetap menghasilkan uan jadi saya akan menjual kondom pada WPS dan tamu di bar.” ( Pemilik/Pengelola bar)
· Saya ingin mengurangi risiko tertular HIV, jadi saya akan menggunakan kondom saat berhubungan seksual.” (WPS)
· “Saya ingin menurunkan prevalensi HIV dan tetap menghasilkan uan jadi saya akan menjual kondom pada WPS dan tamu di bar.” ( Pemilik/Pengelola bar)
Pemasaran Sosial memasukan penelitian sebagai bagian dari pelaksanaan kegiatannya. Penelitian membantu mengidentifikasi elemen penting apa saja yang perlu dirubah untuk mencapai tujuan. Karena perilaku manusia bukan merupakan sesuatu yang stabil maka intervensi yang dilakukan harus dimonitor dan dievaluasi untuk memastikan efektivitasnya. Artinya penelitian harus diulangi secara rutin dapat menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi pada kelompok dampingan. Pemasaran Sosial Kondom sebagai salah satu intervensi efektif setiap 6 bulan melakukan pemetaan untuk mengetahui efektivitas dari intervensi yang dilakukan dalam mengubah perilaku KD.
Pemasaran Sosial Kondom (Condom Social Marketing/PEMASARAN SOSIAL KONDOM): merupakan pendekatan yang mengadaptasi konsep pemasaran komersial yang sama untuk mengurangi perilaku berisiko tinggi dan mempromosikan gaya hidup sehat melalui pemakaian kondom. Dalam Pemasaran Sosial Kondom, manfaat sosial atau tujuan yang diharapkan adalah menurunkan prevalensi IMS dan HIV melalui kegiatan- kegiatan khusus yang dirancang untuk mempromosikan penggunaan kondom di kalangan kelompok berisiko.
Dalam PEMASARAN SOSIAL KONDOM penting sekali melakukan segmentasi KD, siapakah kelompok yang kita tuju; apakah WPS pinggir jalan atau WPS di lokalisasi BanyuBiru? Mengapa? Karena setiap kelompok mempunyai nilai, perilaku, dan sistem kepercayaan yang berbeda. Dengan demikian penting sekali dalam program pemasaran sosial kondom untuk mengenal KD dengan baik.
Dari sudut pandang perancang program, pemasaran sosial menggunakan 4 konsep yang biasa dikenal dengan Empat P
1. Product merujuk pada produk yang ditawarkan pada kelompok
· Barang: kondom, oralit, tablet tambah darah
· Jasa: konseling, imunisasi
· Ide: langit biru, warga siaga
· Barang: kondom, oralit, tablet tambah darah
· Jasa: konseling, imunisasi
· Ide: langit biru, warga siaga
Bagaimana produk yang kita tawarkan dapat terpatri di benak KD kita. Untuk itu, biasanya, posisi dari didasarkan pada manfaat yang didapat. Saat berbicara dengan KD, Anda dapat mengetahui apa yang paling dihargai dari berbagai manfaat yang ditawarkan oleh suatu produk. Atau, hambatan yang mungkin diprediksikan.
Contoh: penggunaan kondom. WPS merasa bahwa menawarkan kondom merupakan pengajewantahan dari kemampuannya untuk menjaga kesehatan tubuhnya, membujuk tamu, dan membuat mereka merasa sebagai orang yang bertanggung jawab atas hidupnya. Walaupun mereka tahu bahwa menggunakan kondom mungkin berarti tamu akan ”main” lebih lama, tidak mudah dilakukan, dan terkadang menyebalkan (bila tamu marah dan pergi meninggalkan mereka untuk cari WPS lain).
2. Price (harga) tidak hanya berarti biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh sebuah produk atau layanan, tetapi termasuk semua hambatan yang harus dilalui konsumen untuk mendapatkan produk dan layanan. Misalnya: rasa jengah menanyakan tentang kondom pada penjual di apotik, rasa malu dan waktu yang hilang dalam rangka mengadaptasi produk atau perilaku baru, waktu yang terbuang untuk menunggu giliran pemeriksaan di klinik.
· Jika saya ingin menggunakan kondom, saya mungkin kehilangan pelanggan (mereka mungkin pergi ke tempat lain). Tetapi ‘harga’ yang harus mereka bayar sekiranya terkena IMS, akan lebih besar.
3. Place (tempat) tempat dimana produk atau layanan ditawarkan. ”Tempat” merujuk
· kualitas dari layanan yang ditawarkan kepada konsumen.
· saluran distribusi atau sistem yang menjadi tempat alur produk
Penting untuk menyediakan pendidikan dan pelatihan bagi orang-orang yang menawarkan produk atau memberikan layanan.
· Kondom dijual dibanyak outlet dimana pekerja seks berada sehingga lebih mudah untuk diakses à penjualnya perlu dilatih tentang penularan HIV dan pencegahannya termasuk didalamnya cara memakai kondom. Dengan demikian ada unsur pendidikan yang kental dalam pemasaran sosial.
· kualitas dari layanan yang ditawarkan kepada konsumen.
· saluran distribusi atau sistem yang menjadi tempat alur produk
Penting untuk menyediakan pendidikan dan pelatihan bagi orang-orang yang menawarkan produk atau memberikan layanan.
· Kondom dijual dibanyak outlet dimana pekerja seks berada sehingga lebih mudah untuk diakses à penjualnya perlu dilatih tentang penularan HIV dan pencegahannya termasuk didalamnya cara memakai kondom. Dengan demikian ada unsur pendidikan yang kental dalam pemasaran sosial.
4. Promotion (promosi) menyampaikan pesan kepada konsumen tentang suatu produk atau layanan. . Promosi mencakup
· pesan (apa yang dikatakan mengenai perilaku baru dan apa manfaat dari produk dan layanan yang ditawarkan)
· keputusan mengenai saluran komunikasi (bagaimana pesan sampai ke orang yang benar pada waktu yang tepat).
· pesan (apa yang dikatakan mengenai perilaku baru dan apa manfaat dari produk dan layanan yang ditawarkan)
· keputusan mengenai saluran komunikasi (bagaimana pesan sampai ke orang yang benar pada waktu yang tepat).
Promosi mencakup pengiklanan penjangkauan, hubungan masyarakat, promosi konsumen, organisasi masyarakat dan pendidikan sebaya.
Pemasaran Sosial dicirikan dengan adanya strategi POSITIONING. Positioning adalah image yang muncul dalam pikiran seseorang, tertanam dalam benak sesorang, serta memberikan nilai positif di dalam pikiran konsumen. Image ini seharusnya muncul lebih baik dibandingkan image dari pesaingnya. Misalnya:
· Djarum Super digambarkan dengan seorang laki – laki muda yang penuh petualang.
· Image dari pengguna kondom adalah seorang yang memiliki tubuh dan badan menarik dan tahu bahwa kondom dapat membuat seks aman.
· Djarum Super digambarkan dengan seorang laki – laki muda yang penuh petualang.
· Image dari pengguna kondom adalah seorang yang memiliki tubuh dan badan menarik dan tahu bahwa kondom dapat membuat seks aman.
Berdasarkan pola pandang konsumen, maka pamasaran sosial berkaitan dengan:
1. Ketersediaan (avaibility):Kondom harus tersedia bagi mereka yang benar – benar memerlukan. Untuk itu kondom harus tersedia di tempat dimana kondom dibutuhkan sehingga dapat digunakan. Berdasarkan informasi dalam logika program kondom, WPS lebih mungkin meminta tamu mereka menggunakan kondom bila kondom tersedia di tempat kerja mereka dan laki-laki lebih besar kemungkinan untuk menggunakan kondom blla diminta oleh WPS. Dengan kata lain demikian, kelompok perilaku risiko tinggi perlu tahu tentang kondom, cara menggunakannya, dan cara meminta pasangan untuk menggunakan kondom sehingga kondom harus tersedia di tempat dan saat diperlukan.
2. Kemudahan untuk memperoleh (accesbility). Kondom harus mudah diperoleh ketika seseorang membutuhkannya. Jika kondom berada ditempat dimana pekerja seks bekerja, maka itulah yang dinamakan ”mudah diperoleh (accessible)”. Terkadang kondom tersedia di tempat dimana terjadi transaksi seksual namum kondom hanya dapat diperoleh saat jam kerja toko atau apotik. Artinya, kondom tersedia tetapi tidak mudah diperoleh.
3. Terjangkau – harga (Affodability) Sebaiknya harga dari kondom harus sesuai dengan harga pasar tidak lebih mahal ataupun lebih murah.Jika terlalu mahal orang tidak akan membeliya. Sebaliknya jika harga kondom terlalu murah, pesaing akan menekan untuk keluar dari pasaran, karena akan banyak kompetitor yang tidak suka dengan kondisi tersebut. Ada konsenkuensi yang harus dihadapi saat kita mempengaruhi seseorang untuk pakai kondom. Maksudnya keputusan untuk pakai kondom berarti ada kesempatan yang mungkin hilang yaitu kesempatan untuk mendapat penghasilan karena pelanggan menolak pakai kondom dan mencari KD lain. Dengan demikian ada kemungkinan KD menolak ajakan kita. Tapi kita harus tetap mencoba. (Opportunitic cost=biaya yang hilang)\
4. Memiliki daya tarik (Appeal): Sebuah perusahan pemasaran akan sangat peduli dengan promotion dan positioning dari sebuah produk. Dalam promosi, perusahan pemasaran ingin menyakinkan uniknya produk yang mereka tawarkan, pesan yang positif tentang produk disampaikan kepada pembeli melalui kampanye media. Melalui positioning, mereka ingin meyakinkan bahwa image yang datang ke pikiran pembeli dapat membuat mereka membeli produk yang ditawarkan karena memang produk tersebut menarik. Mereka juga ingin agar produk mereka lebih menonjol dibandingkan produk lain yang sejenis.
Pemasaran Sosial Kondom adalah bagian dari intervensi struktural yang menggunakan sistem outlet alternatif untuk memastikan ketersediaan, kemudahan akses, keterjangkauan harga dan penerimaan kondom di tingkat masyarakat. Mengembangkan jejaring untuk memudahkan ketersediaan dan akses terhadap kondom memerlukan kerjasama diantara beberapa pihak dan memadukan 3 komponen penting dalam intervensi struktural yaitu: regulasi setempat untuk penggunaan kondom secara konsisten (100% Penggunaan Kondom), Distribusi dan suply kondom, serta penapisan IMS.
Untuk mengubah perilaku menjadi lebih aman, terdapat kondisi-kondisi yang harus dipenuhi:
Persepsi Risiko
· Informasi yang akurat dan lengkap
· Perasaan bahwa masalah ini serius
· Meyakini bahwa ini bisa terjadi pada Anda
· Kemampuan untuk secara akurat menilai risiko pribadi secara akurat.
· Informasi yang akurat dan lengkap
· Perasaan bahwa masalah ini serius
· Meyakini bahwa ini bisa terjadi pada Anda
· Kemampuan untuk secara akurat menilai risiko pribadi secara akurat.
Efektivitas Penyelesaian Masalah
· Keyakinan ada solusi yang menguntungkan, misalnya pemakaian kondom secara konsisten dapat menurunkan mengurangi risiko HIV
· Keyakinan manfaat yang akan diperoleh melebihi “biaya” apapun, misalnya pengurangan risiko lebih penting bagi saya dibandingkan uang, teman sebaya, dll.
· Keyakinan ada solusi yang menguntungkan, misalnya pemakaian kondom secara konsisten dapat menurunkan mengurangi risiko HIV
· Keyakinan manfaat yang akan diperoleh melebihi “biaya” apapun, misalnya pengurangan risiko lebih penting bagi saya dibandingkan uang, teman sebaya, dll.
Ketrampilan dan Kemampuan Diri
· Percaya diri bahwa KD memiliki kemampuan bertindak. Misalnya, saya dapat membujuk pasangan untuk menggunakan kondom
· Percaya diri bahwa Anda dapat menangani hasil yang tidak diharapkan. Misalnya, saya tidak akan melakukan transaksi seks bila tamu tidak mau menggunakan kondom.
· Merasa bahwa orang lain juga melakukannya sehingga Anda dapat melakukannya juga. Misalnya, teman lain menggunakan kondom sehingga saya pasti bisa melakukannya
· Memiliki cukup banyak keterampilan untuk berhasil. Misalnya, ketrampilan untuk menegosiasikan penggunaan kondom, ketrampilan memasang kondom dengan mulut.
· Percaya diri bahwa KD memiliki kemampuan bertindak. Misalnya, saya dapat membujuk pasangan untuk menggunakan kondom
· Percaya diri bahwa Anda dapat menangani hasil yang tidak diharapkan. Misalnya, saya tidak akan melakukan transaksi seks bila tamu tidak mau menggunakan kondom.
· Merasa bahwa orang lain juga melakukannya sehingga Anda dapat melakukannya juga. Misalnya, teman lain menggunakan kondom sehingga saya pasti bisa melakukannya
· Memiliki cukup banyak keterampilan untuk berhasil. Misalnya, ketrampilan untuk menegosiasikan penggunaan kondom, ketrampilan memasang kondom dengan mulut.
Lingkungan
· Anda mendapat dukungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dari teman sebaya, pasangan, masyarakat dan pihak lain yang berarti bagi hidup Anda.
· Hukum, kebijakan, peraturan dan bagaimana semuanya mendukung Anda melakukan perilaku baru.
· Anda mendapat dukungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dari teman sebaya, pasangan, masyarakat dan pihak lain yang berarti bagi hidup Anda.
· Hukum, kebijakan, peraturan dan bagaimana semuanya mendukung Anda melakukan perilaku baru.
Produk dan Layanan
· Produk dan layanan tersedia, dapat diakses, terjangkau dan dapat diterima (ramah, nyaman, menarik), dll.
· Produk dan layanan tersedia, dapat diakses, terjangkau dan dapat diterima (ramah, nyaman, menarik), dll.
Dipublikasi di Uncategorized
Perawatan Komprehensif Berkesinambungan
Perawatan Komprehensif Berkesinambungan bagi ODHA
A. Perawatan komprehensif kesinambungan
Perawatan komprehensif berkesinambungan melibatkan suatu jejaring kerja diantara semua sumber daya yang ada dalam rangka memberikan pelayanan dan perawatan secara holistik, komprehensif dan dukungan yang luas bagi ODHA dan keluarganya. Perawatan komprehensif tersebut meliputi perawatan di rumah sakit dan di rumah selama perjalanan penyakit. Sebelum diputuskan untuk memberikan perawatan komprehensif perlu dipertimbangkan beberapa hal antara lain sumber daya yang memadai yaitu dukungan dana, bahan dan alat, sumber daya manusia, baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat serta jalinan kerjasama yang baik diantara mereka. Perawatan tersebut meliputi tatalaksana klinis, perawatan pasien secara langsung, pendidikan, pencegahan, konseling, perawatan paliatif dan dukungan sosial.
B. Komponen Perawatan Komprehensif Berkesinambungan
Konsep mata rantai perawatan komprehensif yang berkelanjutan dibangun atas dasar pelayanan peawatan HIV dan AIDS dalam kerjasam tim dan harus meliputi beberapa komponen seperti berikut:
1. Konseling dan test HIV sukarela (Voluntary Counseling Testing/VCT) adalah titik awal pelayanan dan perawatan yang berkelanjutan dan merupakan tempat mereka datang untuk bertanya, belajar, menerima status HIV seseorang dengan privasi yang terjaga, yang mampu menjangkau dan menerapkan perawatan dan upaya pencegahan yang efektif.
2. Tata laksana kasus infeksi simtomatik dengan diagnosis dini yang memadai, pengbatan yang rasional, pemulangan yang terencana, kemempuan untuk melakukan rujukan ke penyelenggara layanan yang lain.
3. Asuhan keperawatan yang mampu memberikan kenyamanan pasien dan higienis, mampu mengendalikan infeksi dengan baik, memberikan perawatan paliatif dan menangani kasus terminal, melatih dan mendidik keluarga tentang perawatan dirumah dan pencegahan penularan serta melakukan promosi pemakaian kondom.
4. Perawatan dirumah dan dimasyarakat termasuk diantaranya melatih keluarga dan relawan tentang tatacara perawatan, pengobatan gejala yang sering muncul, serta perawatan paliatif.
5. Promosi gizi yang baik, dukungan psikologis dan emosional, dukungan spiritual dan konseling.
6. Membentuk kelompok dukungan di masyarakat untuk memberikan dukungan emosional kepada ODHA dan para pendampingnya. Dalam kelompok ini dapat dijajaki kesempatan untuk meningkatkan dan menciptakan sumber pendapatan.
7. Mengurangi dan menyingkirkan stigma, membangun sikap positif dari masyarakat terhadap ODHA dan keluarganya, termasuk para petugas kesehatanbaik dijajaran pemerintah maupun swasta dan ditempat kerja.
8. Dukungan social atau rujukan kepada pelayanan social untuk mengatasi permasalahan di tempat tinggal, lingkungan pekerjaan, bantuan hokum, serta memantau dan mencegah terjadinya diskriminasi.
9. Pedidikan dan pelatihan tentang tatalaksana dan pencegahan HIV dan AIDS bagi para pendamping ODHA (petugas kesehatan, keluarga, tetangga,dan relawan)
10. Membangun kerja sama antar penyelenggara layanan (Klinik, Sosial, kelompok dukungan) agar layanan terjangkau melalui system rujukan yang saling mendukung.
1. Konseling dan test HIV sukarela (Voluntary Counseling Testing/VCT) adalah titik awal pelayanan dan perawatan yang berkelanjutan dan merupakan tempat mereka datang untuk bertanya, belajar, menerima status HIV seseorang dengan privasi yang terjaga, yang mampu menjangkau dan menerapkan perawatan dan upaya pencegahan yang efektif.
2. Tata laksana kasus infeksi simtomatik dengan diagnosis dini yang memadai, pengbatan yang rasional, pemulangan yang terencana, kemempuan untuk melakukan rujukan ke penyelenggara layanan yang lain.
3. Asuhan keperawatan yang mampu memberikan kenyamanan pasien dan higienis, mampu mengendalikan infeksi dengan baik, memberikan perawatan paliatif dan menangani kasus terminal, melatih dan mendidik keluarga tentang perawatan dirumah dan pencegahan penularan serta melakukan promosi pemakaian kondom.
4. Perawatan dirumah dan dimasyarakat termasuk diantaranya melatih keluarga dan relawan tentang tatacara perawatan, pengobatan gejala yang sering muncul, serta perawatan paliatif.
5. Promosi gizi yang baik, dukungan psikologis dan emosional, dukungan spiritual dan konseling.
6. Membentuk kelompok dukungan di masyarakat untuk memberikan dukungan emosional kepada ODHA dan para pendampingnya. Dalam kelompok ini dapat dijajaki kesempatan untuk meningkatkan dan menciptakan sumber pendapatan.
7. Mengurangi dan menyingkirkan stigma, membangun sikap positif dari masyarakat terhadap ODHA dan keluarganya, termasuk para petugas kesehatanbaik dijajaran pemerintah maupun swasta dan ditempat kerja.
8. Dukungan social atau rujukan kepada pelayanan social untuk mengatasi permasalahan di tempat tinggal, lingkungan pekerjaan, bantuan hokum, serta memantau dan mencegah terjadinya diskriminasi.
9. Pedidikan dan pelatihan tentang tatalaksana dan pencegahan HIV dan AIDS bagi para pendamping ODHA (petugas kesehatan, keluarga, tetangga,dan relawan)
10. Membangun kerja sama antar penyelenggara layanan (Klinik, Sosial, kelompok dukungan) agar layanan terjangkau melalui system rujukan yang saling mendukung.
C. Tempat Perawatan
1. Perawatan dirumah
Perawatan dirumah adalah perawatan yang diberikan kepada ODHA ditempat tinggalnya sendiri.dalam hal ini termasuk orang-orang yang merawat dirinya sendiri, keluarga,teman, tetangga, perawat, bidan, pekerja social, atau petugas kesehatan lainnya . Perawatan tersebut dapat berupa perawatn fisik, dukungan psikososial, spiritual, dan paliatif.
2. Masyarakat
Dukungan masyarakat adalah perawatan atau dukungan yang diberikan dalam masyarakat. Perawatan tersebut dapat diberikan oleh perawat, bidan, relawan yang terlatih, petugas kesehatan masyarakat, dukun tradisional, LSM, tokoh masyarakat, guru, kelompok pemuda, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, dan lain-lain. Dengan melibatkan masyarakat dalam perawatn tersebut maka kualitas hidup ODHA akan ditingkatkan. Perawat dan petugas social dapat memiliki peran penting dalam menarik partisipasi masyarakat setempat dalam hal menerima dan memberikan dukungan kepada ODHA.
3. Pusat Kesehatan Masyarakat
Perawatan bagi ODHA di sarana pelayanan kesehatan primer atau dasar di Pusat kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Puskesmas Pembantu (Pustu) dapat diberikan oleh pembantu perawat.
4. Rumah Sakit di tingkat Kabupaten Kota
Pelayanan kesehatan lanjutan bagi para ODHA tersedia di Rumah Sakit kabupaten dimana tersedia tenaga dokter, perawat, konselor, pekerja sosial, dan sarana pendidikan dan pelatihan. Bantuan hukum juga dapat diberikan.
5. Rumah Sakit rujukan di Provinsi/ Nasional
Pelayanan ditingkat rujukan tersebut berupa pelayanan medis spesialis sebagai tambahan yang berada di tingkat kabupaten / kota.
D. Prinsip Dasar Perawatan Komprehensif Berkesinambungan
1. Perawatan dan pencegahan yang terpadu yang memberikan layanan perawatan secara lengkap dan menyeluruh
2. Perawatan dan pencegahan yang tidak diskriminatif dan menghakimi
3. Menjaga kerahasiaan dan menghormati hak asasi
4. Asuhan keperawatan dan medis untuk meringankan gejala penyakit terkait HIV serta pencegahan terjadinya infeksi oportunistik
5. Konseling dan dukungan psikososial, aktif mendengarkan keluhan ODHA dan keluarganya, serta memberdayakan mereka agar mampu membuat rencana kedepan
6. Menyediakan dukungan bagi perawatan di rumah
7. Mobilisasi sumber daya di masyarakat untuk perawatan lengkap menyeluruh serta efisien
8. Dukungan berupa pendidikan dan pelatihan serta supervisi bagi pemberi layanan dan staff
2. Perawatan dan pencegahan yang tidak diskriminatif dan menghakimi
3. Menjaga kerahasiaan dan menghormati hak asasi
4. Asuhan keperawatan dan medis untuk meringankan gejala penyakit terkait HIV serta pencegahan terjadinya infeksi oportunistik
5. Konseling dan dukungan psikososial, aktif mendengarkan keluhan ODHA dan keluarganya, serta memberdayakan mereka agar mampu membuat rencana kedepan
6. Menyediakan dukungan bagi perawatan di rumah
7. Mobilisasi sumber daya di masyarakat untuk perawatan lengkap menyeluruh serta efisien
8. Dukungan berupa pendidikan dan pelatihan serta supervisi bagi pemberi layanan dan staff
E. Memandu Perawatan dan Pencegahan HIV
Memadukan upaya perawatan dan pencegahan merupakan strategi yang penting. Komponen yang sangat vital pada perawatan ODHA adalah mendengarkan dan menarik pembelajaran dari ODHA dan keluarganya. Pelayanan konseling klinik IMS,Klinik KIA, dan pelayanan kesehatan lainnya memiliki peran penting. Memadukan upaya perawatan dan pencegahan akan memberi peluang untuk melakukan konseling dan tes HIV sukarela, pendidikan tentang perilaku yang beresiko dan distribusi kondom. Kegiatan tersebut harus disertai dengan konseling, tatalaksana klinis dan perawatan. Perlu juga untuk menggalang dukungan masyarakat agar orang mampu merawat dirinya sendiri.
F. Menjalin Jaringan Pelayanan Berkesinambungan
Menjalin layanan di Rumah Sakit, Puskesmas,dan di masyarakat, agar terjadi perawatan dan pelayanan yang berkesinambungan dan memenuhi kebutuhan Odha merupakan hal yang rumit. Hal terpenting adalah memusatkan upaya pada kerjasama yang saling mendukung bagi rekan yang lain. Dengan demikian kelompok lain yang memiliki keterampilan lebih spesifik dapat memberi pelatihan kepada kelompok lainnya. Atau salah satu kelompok hanya memusatkan pada pelayanan tertentu yang merupakan bagian dari perawatan lengkap, diikuti dengan system rujukan yang efektif kepada kelompok lain yang memiliki kemampuan untuk memberikan layanan dibidang lainnya.
Dengan pelayanan yang berkesinambungan diasumsikan bahwa system pendukung seperti dibawah ini tersedia secara terpadu dan dapat berjalan secara efektif dan efisien ;
Dengan pelayanan yang berkesinambungan diasumsikan bahwa system pendukung seperti dibawah ini tersedia secara terpadu dan dapat berjalan secara efektif dan efisien ;
1. Tersedianya bahan KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) yang sesuai untuk promosi pencarian perawatan dan destigmatisasi penyakit
2. Mobilisasi masyarakat untuk membangun program layanan masyarakat
3. Terjalinnya kemitraan antara pemerintah dan LSM yang bergerak dibidang kesehatan dan sosial
4. Tersedianya prosedur rujukan antara Rumah Sakit di pusat dan di daerah
5. Tersedianya prosedur rujukan antara pasien beserta keluarganya dengan lembaga dukungan social atau LSM
6. Tersedianya prosedur supervisi dari sarana kesehatan di tingkat pusat sampai ke daerah termasuk para relawan. Pelatihan bagi petugas dan relawan
2. Mobilisasi masyarakat untuk membangun program layanan masyarakat
3. Terjalinnya kemitraan antara pemerintah dan LSM yang bergerak dibidang kesehatan dan sosial
4. Tersedianya prosedur rujukan antara Rumah Sakit di pusat dan di daerah
5. Tersedianya prosedur rujukan antara pasien beserta keluarganya dengan lembaga dukungan social atau LSM
6. Tersedianya prosedur supervisi dari sarana kesehatan di tingkat pusat sampai ke daerah termasuk para relawan. Pelatihan bagi petugas dan relawan
G. Asuhan Keperawatan HIV dan AIDS Dewasa dengan Penyakit Penyerta
Asuhan keperawatan bagi pasien HIV dan AIDS beserta penyakit yang menyertainya sama saja dengan asuhan keperawaan yang harus diberikan pada pasien lainnya. Oleh karenanya semua perawat/bidan serta petugas kesehatan lainnya yang berkepentingan harus memiliki ketrampilan yang memadai dalam memberikan asuhan keperawatan pasien HIV dengan penyakit lain, yaitu semua prinsip asuhan keperawatan harus diterapkan secara bertanggung jawab. Sebagai tambahan, semua gejala dan tanda penyakit yang berhubungan dengan infeksi HIV akan mudah dikenali oleh para perawat tersebut oleh karena tingkat pengetahuan dan pengalaman mereka dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan penyakit kronis dan progresif lainnya.
Hampir semua pasien HIV akan berkembang menjadi AIDS disertai penyakit penyerta lainnya. Kecepatan perkembangan penyakit tersebut tergantung dari jenis virus dan kondisi masing-masing pasien. HIV menginfeksi kedua jaringan saraf baik pusat maupun perifer sejak awal perkembangn penyakitnya, dan sering menimbulkan masalah neurologik dan psikiatrik. Seiring dengan perkembangan infeksi HIV dan penurunan derajat imunitas seseornga maka pasien cenderung untuk mendapatkan infeksi oportunistik dan kondisi patologik lainnya. Infeksi opotunistik dan kanker yang berhubungan dengan AIDS menyerang tubuh yang memiliki system imunitas yang rendah.
Hampir semua pasien HIV akan berkembang menjadi AIDS disertai penyakit penyerta lainnya. Kecepatan perkembangan penyakit tersebut tergantung dari jenis virus dan kondisi masing-masing pasien. HIV menginfeksi kedua jaringan saraf baik pusat maupun perifer sejak awal perkembangn penyakitnya, dan sering menimbulkan masalah neurologik dan psikiatrik. Seiring dengan perkembangan infeksi HIV dan penurunan derajat imunitas seseornga maka pasien cenderung untuk mendapatkan infeksi oportunistik dan kondisi patologik lainnya. Infeksi opotunistik dan kanker yang berhubungan dengan AIDS menyerang tubuh yang memiliki system imunitas yang rendah.
Dipublikasi di Teknik Pemberdayaan
Kompas: HIV, Seks dan Kita
| Kompas: HIV, Seks dan Kita |
| Memasuki usia 20 tahun, Laila—bukan nama sebenarnya—telah menanggung beban hidup yang teramat berat. Virus HIV telah merenggut nyawa suami dan buah hatinya yang baru berusia delapan bulan.
Tubuh perempuan malang ini pun digerogoti virus ganas yang hingga kini belum ditemukan obatnya itu sehingga terpaksa berhenti bekerja sebagai karyawan toko baju.
Kisah berawal ketika ia menerima pinangan kekasihnya setelah masa pacaran beberapa tahun meski ia mengetahui calon suaminya adalah seorang pencandu narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza).
Harapannya, dengan membina rumah tangga, kebiasaan buruk itu bisa berhenti sesuai dengan janji sang kekasih. Beberapa bulan setelah menikah, Laila pun mengandung.
Di tengah sukacita menyambut kehadiran sang buah hati, suaminya yang sehari-hari bekerja di bengkel mobil kembali kecanduan narkoba dengan memakai jarum suntik.
Sang suami akhirnya jatuh sakit. Saat itulah dia tahu bahwa suaminya positif terinfeksi HIV. Atas saran dokter, Laila ikut menjalani pemeriksaan HIV dan ternyata juga dinyatakan positif tertular HIV.
Belum cukup derita yang dialaminya, belakangan anak semata wayangnya juga dinyatakan terinfeksi HIV. Ia juga sempat dikucilkan oleh kerabat dan tetangganya yang takut tertular.
Kondisi suaminya makin parah. Selama beberapa minggu suaminya menderita diare, demam, nyaris hilang ingatan, dan terserang tuberkulosis paru.
Hanya beberapa pekan dirawat di rumah sakit, suami Laila akhirnya mengembuskan napas terakhir. Anak lelakinya meninggal saat menginjak usia tiga tahun karena infeksi oportunistik, yaitu tuberkulosis paru.
Kehilangan dua orang yang dicintai sempat membuatnya terpuruk. Perlahan, ia mulai bangkit dan aktif dalam berbagai kegiatan penyuluhan HIV/AIDS yang mempertemukannya dengan seorang pria sesama orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang kini jadi pendamping hidupnya.
Kini ia dikaruniai seorang putri yang sehat dan tengah mengandung anak kedua. Laila adalah satu dari antara sekian banyak perempuan yang tertular HIV dari pasangannya melalui hubungan seksual tanpa menggunakan alat kesehatan reproduksi seperti kondom.
Selain harus berjuang mempertahankan hidup, mereka juga menanggung beban pengobatan bagi anak-anak mereka yang dinyatakan positif HIV begitu dilahirkan.
hubungan seksual
”Sebanyak 46,2 persen dari total kasus penularan HIV terjadi melalui hubungan seksual, khususnya heteroseksual,” kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Nafsiah Mboi.
Penularan virus HIV juga terjadi karena penggunaan napza melalui jarum suntik tidak steril secara bergantian yang proporsinya mencapai 49,1 persen dari total jumlah kasus.
Berdasarkan data Departemen Kesehatan, per Juni 2008 jumlah orang terinfeksi HIV tersebar di 195 kabupaten/kota di 32 provinsi Indonesia.
Kasus terbanyak ditemukan di lima provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Papua, dan Bali. Secara kumulatif, per Juni 2008, jumlah ODHA sebanyak 18.963 orang, terdiri atas 6.277 orang terinfeksi HIV dan 12.686 hidup dengan AIDS.
Tahun 2009 diperkirakan jumlah ODHA di Indonesia mencapai 169.230-216.820 orang. Saat ini berdasarkan data Badan PBB untuk Penanggulangan AIDS, UNAIDS, Indonesia termasuk negara dengan epidemi HIV terkonsentrasi, di mana pada subpopulasi tertentu prevalensinya sudah 5 persen atau lebih.
”Di Indonesia tidak ada provinsi bebas HIV dan AIDS. Bahkan, Provinsi Papua dan Papua Barat tergolong daerah dengan epidemi pada populasi umum level rendah, di mana dalam masyarakat umum, orang yang terinfeksi HIV lebih dari 1 persen,” kata Country Coordinator UNAIDS Nancy Fee.
Langkah terbaik menghindari HIV dan penyakit infeksi menular seksual lain serta kehamilan yang tidak diinginkan adalah pantang berhubungan seks sebelum menikah dan saling setia dengan pasangan.
”Namun, pada setiap hubungan seksual yang berisiko penularan IMS dan HIV, penggunaan kondom merupakan perilaku bertanggung jawab,” ujar Nafsiah Mboi menegaskan.
”Menggunakan kondom adalah salah satu alat memelihara kesehatan reproduksi, baik sebagai alat kontrasepsi maupun pencegahan penularan HIV,” kata Sekretaris Umum Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sudibyo Alimoeso menegaskan.
Saat ini jumlah orang yang rawan tertular HIV diperkirakan 193.000 orang, yaitu para pengguna narkoba suntik, pelanggan pekerja seks komersial, pekerja seks, waria, dan pelanggan waria. Namun, hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2007 menunjukkan rendahnya tingkat penggunaan kondom secara nasional, yaitu hanya 1,5 persen dari total jumlah akseptor KB.
Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang cara mengurangi risiko tertular HIV dengan kondom serta adanya sejumlah mitos mengenai kondom yang di antaranya memiliki pori, tidak efektif, mudah robek, dan mutu jelek.
”Hal ini diperparah oleh adanya stigmatisasi kondom dan AIDS, yaitu tabu, biasa dipakai oleh homoseks, identik dengan berganti pasangan, dan oleh sebagian orang dianggap memperluas pelacuran atau perzinahan,” ujar Sudibyo.
Polemik di kalangan masyarakat itu menyebabkan kampanye pencegahan penularan HIV dan penyakit IMS lain melalui hubungan seks secara aman tidak berjalan baik.
”Padahal, ada beberapa kelebihan pemakaian kondom dibandingkan dengan alat kontrasepsi lainnya, yaitu tidak perlu memakai resep, murah, mudah didapat, mudah dipakai, efek samping sedikit, dan mencegah penularan infeksi menular seksual.
Sejumlah penelitian juga telah membuktikan efektivitas alat kesehatan itu,” kata Sudibyo menambahkan. Maka dari itu, kesadaran akan pentingnya penggunaan kondom di Indonesia perlu ditingkatkan dengan melibatkan semua pihak, baik unsur pemerintah, swasta, maupun yayasan nirlaba.
”Tetapi, jika seseorang berperilaku berisiko, cegah penularan dengan memakai kondom,” ujar Nafsiah. Menurut Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia Tarmizi Taher, kelompok agama berperan besar dalam memberi pemahaman yang benar tentang perilaku untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan dan IMS, termasuk HIV/AIDS.
”Pemuka agama harus bisa memberi pemahaman bahwa alat kesehatan seperti kondom justru dapat menyelamatkan jiwa,” ujar mantan Menteri Agama RI ini.
EVY RACHMAWATI
|
Dipublikasi di Teknik Pemberdayaan
Harm Reduction (Pengurangan Dampak Buruk Narkoba)
Harm Reduction (Pengurangan Dampak Buruk Narkoba)
Penularan HIV dikalangan pengguna narkoba jarum suntik (Injecting Drug User / IDU ) meningkat pesat, lebih dari 80 %, dan menjadi inti bagi gelombang penularan ke komunitas yang lebih luas. Penyebarluasan HIV dan AIDS memiliki konsekuensi sosial dan ekonomis yang berat bagi Negara manapun.
Harm Reduction atau “Pengurangan Dampak Buruk” adalah pendekatan yang aman dan efektif untuk menahan serta mengurangi laju epidemi HIV, yang telah berhasil diterapkan di sejumlah negara seperti Australia, Selandia Baru, Inggris, Belanda serta Denmark. Negara – negara tersebut telah menerapkan kombinasi dari berbagai program Harm Reduction (Pengurangan Dampak Buruk) pada awal epidemi sehingga memiliki angka infeksi HIV dikalangan IDU lebih rendah.
Apakah Harm Reduction itu?
Prinsip pengurangan dampak buruk narkoba mengandung sejumlah unsur sebagai berikut:
- Tujuan jangka pendek: Upaya mencegah laju penyebaran HIV dilaksanakan secepat mungkin.
- Hirarki sarana untuk mencapai tujuan khusus :
- Pengguna narkoba didorong untuk berhenti memakai narkoba.
- Jika tidak bisa, maka pengguna didorong untuk berhenti memakai cara menyuntik.
- Jika tidak bisa, maka pengguna didorong dan dipastikan tidak berbagi peralatan suntiknya dengan pengguna lain.
- Jika tetap terjadi penggunaan bergantian, maka pengguna dilatih untuk mensucihamakan peralatan suntiknya disetiap penggunaan.
- Keterlibatan pengguna narkoba : pengguna tidak dianggap sebagai penerima layanan yang pasif tetapi harus dipandang sebagai pelaku yang sangat penting dalam pencegahan HIV / AIDS. Telah terbukti secara konsisten, organisasi pengguna narkoba berperan sangat besar dalam pengembangan strategi pengurangan dampak buruk narkoba (Harm Reduction).
Tindakan – tindaakan dalam Harm Reduction
Beraneka ragam program untuk mengembangkan asas – asas pengurangan dampak buruk narkoba, serta mencegah infeksi HIV dikalangan IDU, diantaranya :
- Penyediaan program informasi untuk menyadarkan IDU mengenai resiko penggunaan dan penyuntikan narkoba.
- Pendirian program pengalihan narkoba (substitusi ; metadon, buphrenorphin)
- Pendidikan penjangkauan dengan memakai pendidik sebaya (mantan pengguna)
- Program penyebaran / pertukaran jarum suntik yang suci hama dan pembuangan jarum suntik bekas
- Penjualan bebas jarum suntik
- Konseling dan tes HIV di kalangan IDU
- Memperbesar kesempatan bagi IDU untuk memperoleh layanan kesehatan dasar
- Menghapus hambatan yang menghalangi upaya penyuntikan yang lebih aman, termasuk Undang – undang dan tindakan polisi
- Sasaran : kelompok dan keadaan khusus (narapidana, pekerja seks)
Pendekatan Pengurangan Dampak Buruk (Harm Reduction) tidak dapat bekerja sendiri untuk meminimalisir epidemi kembar HIV dan penggunaan narkoba. Namun, pendekatan kesehatan masyarakat ini harus bekerjasama dengan penegak hukum untuk mencegah penyebaran HIV.
Program Pertukaran Jarum Suntik (Perjasun)
Pengguna narkoba suntik di Indonesia beresiko tinggi untuk terinfeksi HIV dan penyakit serius lainya seperti hepatitis C. Salah satu cara yang terbukti berhasil dalam mencegah penyebaran penyakit ini dikalangan IDU adalah dengan dilaksanakannya Program Pertukaran Jarum Suntik (Perjasun). Dalam program ini, tersedianya peralatan suntik yang suci hama dan alat pembuangan jarum bekas yang aman, serta dorongan kepada IDU untuk memakainya, adalah faktor penting dalam program Harm Reduction.
Di Negara – Negara yang sudah melaksanakan Perjasun selama 20 tahun, telah terbukti program kesehatan masyarakat ini ampuh dan hemat biaya dalam mencegah HIV. Disamping itu juga diteliti bahwa Perjasun mampu mengurangi penularan HIV tanpa meningkatkan jumlah IDU baru.
Indonesia adalah salah satu Negara dengan epidemi HIV tertinggi di dunia. Meskipun hingga saat ini jumlah yang terinfeksi masih rendah, Departemen Kesehatan RI memperkirakan sekitar 19 juta orang berada pada resiko terinfeksi HIV, diantaranya karena mereka berperilaku seksual yang beresiko tinggi.
HIV menyebar sangat pesat dikalangan ribuan remaja yang menggunakan narkoba suntik di Indonesia. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) memperkirakan bahwa lebih dari 80 % akan terinfeksi HIV di kalangan IDU.
Mengapa Indonesia harus memulai Program Harm Pertukaran Jarum Suntik?
Perjasun bertujuan untuk mencegah orang berbagi perlengkapan suntik sehingga dapat mengurangi penularan HIV di kalangan IDU, dan pada giliranya akan melindungi masyarakat lainnya.Di Negara – Negara dimana program ini telah dilaksanakan sejak dahulu, infeksi HIV di kalangan IDU mengalami penurunan (misalnya : Australia). Di beberapa Negara lain dimana Perjasun tidak dilaksanakan, atau dilaksanakan belakangan ini, jumlah orang yang terinfeksi mengalami peningkatan sebesar lebih dari 50 % dalam jangka waktu antara satu hingga dua tahun.
Di Jakarta sebanyak 48 % orang yang tengah mencari pengobatan untuk berhenti dari penggunaan narkoba suntik adalah HIV positif. Adalah kebutuhan yang sangat mendesak untuk memulai program pertukaran jarum suntik untuk melindungi banyak generasi muda di Indonesia masih berada dalam tingkat resiko tinggi.
Program ini tidak hanya sekedar membagikan jarum suntik, namun juga merupakan sarana kontak pertama bagi IDU yang berniat untuk melindungi kesehatannya serta merubah perilakunya. Program ini menawarkan edukasi dan infomasi mengenai cara mengurangi atau menghentikan penggunaan narkoba. Selain itu, program ini juga menawarkan rujukan pada rehabilitasi, akses pada medis serta layanan hukum dan sosial.
Apa yang bisa dilakukan dengan jarum suntik bekas?
Program Perjasun mendorong IDU untuk membuang jarum suntik mereka dengan cara yang aman dan tidak membahayakan masyarakat. Bahkan program ini mengembangkan opsi dalam cara pembuangan yang aman, seperti fasilitas pemusnah limbah (incenerator) dirumah sakit. Bukti ilmiah di Negara lain menunjukkan bahwa perjasun tidak menimbulkan peningkatan dalam jumlah limbah jarum suntik.
Jika anda tertusuk jarum suntik, apakah anda beresiko untuk terinfeksi?
Tidak ada sebab akibat yang dilaporkan mengenai timbulnya HIV atau Hepatitis C setelah seseorang tercederai oleh limbah peralatan suntik.
Jika anda tertusuk jarum suntik :
- Cucilah tangan / kaki anda dengan air yang mengalir.
- Cucilah tangan / kaki anda dengan air sabun hangat dan ikatlah dengan perban.
- Hubungi dokter atau Puskesmas setempat.
- Mintalah nasehat secara pribadi dari dokter.
Jika anda menemukan jarum suntik tercecer, bagaimana cara membuangnya supaya aman?
Ikuti langkah ini :
- Carilah botol plastik, atau kontainer plastik lainya, jangan yang terlalu lunak dan mempunyai :
– Tutup yang diputar.
– Tidak mudah ditusuk atau dipecahkan (botol plastik yang transparan adalah yang
terbaik).
- Masukkan ujung jarumnya terlebih dahulu kedalam kontainer :
– Jangan mencoba untuk menutup lagi jarum bekas.
– Kontainer dapat diisi setengah penuh sebelum dibuang.
– Jauhkan kontainer dari jangkauan anak – anak.
– Tutup rapat kontainer bila sedang tidak dipergunakan.
- Buang kontainer yang telah disegel dalam kantong sampah dan segel kembali sebelum diambil oleh pengumpul sampah.
Ingat selalu
- Jangan mencoba untuk membakar jarum suntik, pembakaran biasa tidak cukup untuk memusnahkan jarum suntik.
- Nasehati anak – anak untuk melapor kepada orang dewasa jika mereka menemukan jarum suntik. Jangan membiarkan anak – anak bermain dengan jarum suntik.
PENGGUNA NAPZA SUNTIK ADALAH BAGIAN DARI SOLUSI, BUKAN MASALAH.
LIBATKAN MEREKA DALAM PENAGGULANGAN HIV / AIDS DI INDONESIA.
PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU HAMIL KE ANAK
PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU HAMIL KE ANAK
(Prevention Mother To Child Transmission – PMTCT)
(Misti Rahayu,SKM – Staf seksi P2M Dinkes Kab.Banyumas I)
MENGAPA PMTCT ?
Salah satu tujuan dibentuknya Klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing) di Rumah Sakit adalah untuk merubah perilaku masyarakat dari perilaku beresiko tinggi menjadi perilaku yang tidak beresiko tertular HIV dan AIDS. Di Kabupaten Banyumas beberapa pekan lagi Klinik VCT yang ada di RSUD Banyumas dan RSU Margono Soekarjo akan genap berusia 2 tahun. Tercatat, pemanfaatan kedua klinik VCT oleh masyarakat sampai dengan bulan Agustus 2007 sebanyak 2383 kunjungan telah memanfaatkan klinik untuk mengetahui status HIV mereka dan dari kunjungan tersebut 2383 mengikuti tahapan konseling pre test, 2241 yang bersedia melakukan testing dan 1567 bersedia mengambil hasil.
Sampai dengan akhir Desember 2007, dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas tercatat sebanyak 181 penderita HIV dan AIDS dengan rincian 131 HIV, 50 AIDS ( 27 orang meninggal dunia, 26 orang masih menjalani proses pengobatan).
Fakta menunjukkan telah terjadi peningkatan penemuan kasus yang sangat drastis di klinik VCT, karena sebelum ada klinik VCT dari kegiatan penemuan kasus dengan sero survey HIV yang dilakukan selama 10 tahun hanya menemukan 60 kasus, sementara dengan adanya 2 Klinik VCT dalam waktu hampir 2 tahun telah ditemukan 121 kasus.
Estimasi Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2006 diperkirakan ada 340 ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS) di Kabupaten Banyumas. Dengan demikian masih banyak kasus yang belum terungkap dan ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menginformasikan kepada masyarakat perlunya mengunjungi klinik VCT terutama untuk mereka yang masih berperilaku beresiko tinggi tertular HIV dan AIDS seperti Wanita Penjaja Seks, Pelanggan WPS, pengguna narkoba suntik, pasangan pengguna narkoba suntik, dan pelanggan WPS.
Kenyataan yang ada di Kabupaten Banyumas tidak terlepas dari situasi epidemiologi HIV dan AIDS di Indonesia saat ini, beberapa situasi yang terjadi antara lain :
- AIDS sudah ditemukan di seluruh propinsi dan lebih dari 50 % Kabupaten di Indonesia
- Dilaporkan AIDS bertambah setiap 2 jam
- Di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) setiap hari, 1 orang meninggal karena AIDS
- Di RS Bersalin Budi Asih Jakarta, setiap bulan 4 bayi terlahir dengan sero reaktif HIV
- Hampir setiap propinsi ada informasi ibu hamil dangan HIV dan anak yang HIV atau AIDS
- Lebih dari 6,5 juta perempuan di Indonesia menjadi populasi rawan tertular dan menularkan HIV dan AIDS
- Lebih dari 24.000 Perempuan Usia Subur di Indonesia telah terinfeksi HIV
- Lebih dari 9.000 perempuan HIV+ hamil dalam setiap tahunnya
- Lebih dari 30 % diantaranya melahirkan bayi yang tertular bila tidak ada PMTCT (Prevention Mother To Child Transmission).
Di RSUD Banyumas tercatat sudah membantu persalinan wanita dengan HIV sebanyak 2 orang dan di RSUD Margono sudah merawat 5 orang balita dengan HIV dan AIDS dimana 2 orang balita tersebut sudah meninggal dunia. Disini menunjukkan bahwa telah ada infeksi HIV pada wanita hamil dan terjadi penularan HIV dari ibu ke anak di Kabupaten Banyumas.
Beberapa dampak infeksi HIV pada ibu dan anak antara lain adalah akan mengakibatkan stigma sosial pada ibu dan anak, pada anak juga akan terjadi gangguan tumbuh kembang, kematian usia dini, penyakit seumur hidup dan bertambahnya status yatim piatu.
Masih banyak orang yang setuju dengan pernyataan bahwa wanita HIV jangan punya anak agar anaknya tidak HIV. Mengapa ? Karena orang beranggapan bahwa semua bayi dari ibu HIV pasti akan terinfeksi HIV, khawatir dengan nasib anak yatim dari ibu HIV, perempuan HIV seringkali dikucilkan, anggapan bahwa hak-hak dari masyarakat lebih penting daripada hak individu (perempuan HIV) dan kurang kesadaran masyarakat tentang aspek kejiwaan seorang ibu serta masih banyak orang yang belum faham bahwa penularan dari ibu kepada anaknya bisa dicegah
Pencegahan penularan HIV dari ibu kepada bayi (PMTCT) bisa dilaksanakan, bila :
a) terdeteksi ,
b) terkendali perilaku, obat dan pencegahan infeksi
c) pemilihan rute kelahiran,
d) pemilihan ASI/PASI,
e) pemantauan bayi – balita,
f) dukungan dan perhatian.
Untuk itu PMTCT perlu dilakukan karena penularan dari ibu ke anak dapat dicegah sampai 50 % melalui intervensi yang feasible, effordable disamping melalui pencegahan primer kepada pasangan usia subur.
PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU HAMIL KE ANAK.
Dalam rangka pelaksanaan MDG (Millennium Development Goal) dengan indikator teknis dari kegiatan PMTCT adalah :
a) pada tahun 2015 menurunkan angka kesakitan HIV ibu hamil,
b) menurunkan tingkat penularan dari ibu ke anak dibawah 10 %.
Untuk itu beberapa kebijakan teknis PMTCT telah diambil oleh pemerintah, yaitu :
- Kebijakan umum pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi dilaksanakan sejalan dengan kebijakan umum pada Kesehatan Ibu dan Anak dan kebijakan penanggulangan HIV dan AIDS DI Indonesia.
- Layanan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi diintegrasikan dengan paket pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak dan layanan Keluarga Berencana di tiap jenjang pelayanan kesehatan
- Semua perempuan yang dating ke pelayanan kesehatan ibu dan anak dan layanan keluarga berencana di tiap jenjang pelayanan kesehatan mendapat informasi pencegahan penularan HIV selama masa kehamilan dan menyusui.
Pencegahan penularan HIV dari Ibu hamil ke anak dilaksanakan melalui 4 pilar :
- Mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia produktif melalui ABCD ( Abstinence, Be Faithful, Condom use, Don’t use drug )
- Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV.
- Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV ke bayi yang dikandungnya (Kesehatan Ibu & Anak, VCT, Anti Retro Viral, Persalinan dan makanan bayi)
- Memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu HIV beserta bayi dan keluarganya.
Memperhatikan kebijakan PMTCT tersebut maka pelayanan PMTCT yang dilakukan sesuai dengan sasarannya :
- Untuk semua perempuan
- Antenatal Care
Perawatan kesehatan pada kehamilan melalui pemeriksaan kehamilan secara berkala sesuai dengan pedoman yang ada agar dapat dideteksi secara dini jika ada kelainan atau perlakuan khusus pada kehamilan yang terjadi.
-
- Penyuluhan tentang HIV
Penyuluhan tentang HIV meliputi apa itu HIV, bagaimana cara penularannya, bagaimana cara pencegahannya dan dukungan apa yang didapatkan jika seseorang dinyatakan HIV
-
- Testing HIV
Testing HIV sampai saat ini dianjurkan melalui tahapan VCT (Voluntary Counseling and Testing) yaitu pemeriksaan status HIV secara sukarela dengan konseling dan testing di klinik VCT dengan tidak menghilangkan azas kerahasiaan dari klien.
-
- Testing pada pasangan
Testing pada pasangan ini sangat penting karena beberapa kasus HIV yang ditemukan disebabkan oleh pasangan yang HIV tapi tidak tidak terdeteksi sehingga tidak dilakukan upaya untuk mencegah terjadinya penularan dari pasangan yang HIV kepada pasangannya.
-
- Keluarga Berencana
Penggunaan alat kontrasepsi kondom, disamping untuk mencegah terjadinya kehamilan bisa juga mencegah terjadinya penularan HIV dari penderita HIV pada pasangannya.
- Perempuan dengan HIV Positif
- Pelayanan kesehatan ibu dan anak yang komprehensif
Layanan yang diberikan pada layanan kesehatan secara menyeluruh meliputi layanan pra persalinan, pasca persalinan dan kesehatan anak.
-
- Layanan konseling dan tes HIV secara sukarela
Konseling dan testing HIV secara sukarela dilakukan di klinik VCT, karena jika didapatkan status HIV maka klinik VCT akan menindaklanjuti dengan kegiatan PMTCT
-
- Program ARV untuk PMTCT
Program ARV ( Anti Retro Viral Terapi ) pada PMTCT ini perlu dilakukan jika pasangan dengan ibu HIV ingin mempunyai anak. Dengan mengikuti program ARV maka kepadatan virus dapat ditekan sehingga dapat ditentukan kapan ibu HIV dapat melakukan hubungan suami istri tanpa menggunakan alat kontrasepsi untuk mendapatkan kehamilan.
-
- Konseling makanan bayi
Konseling makanan bayi dibutuhkan agar bayi yang dilahirkan benar-benar tidak tertular HIV
-
- Dukungan psikososial
Karena masih besarnya stigma pada HIV maka dukungan psikososial ini perlu diberikan untuk memberikan kepercayaan pada penderita
-
- Perawatan HIV
Perawatan HIV dilakukan untuk mengetahui perlu tidaknya seseorang itu mengikuti program-program yang ada pada kegiatan CST (Care Support and Treatment ( perawatan, dukungan dan pengobatan ) bagi penderita HIV
-
- Diagnosa HIV untuk bayi
Diagnosa HIV untuk bayi perlu dilakukan untuk melihat apakah program PMTCT yang telah dilakukan benar-benar memberikan hasil yang maksimal.
- Perempuan dengan HIV Negatif
Konseling pencegahan penularan HIV untuk perilaku sehat agar tidak tertular HIV
Kesadaran perempuan atau pasangan usia subur untuk melakukan pemeriksaan status HIV dengan mengunjungi Klinik VCT merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam rangka pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. Jika hal ini bisa dilakukan sedini mungkin maka penularan HIV di Banyumas bisa dicegah lebih awal dan persalinan yang diharapkan akan meneruskan generasi bangsa yang sehat dan kuat dapat terlaksana.
Dipublikasi di Info Dasar
